Menemukan Kebahagiaan: Studi atas Pemikiran Tasauf Hamka

Oleh: Anhar*

 

Abstrak

Temuan penelitian ini sebagai berikut: Kebahagiaan sejati diperoleh dengan membersihkan, memurnikan dan mempertajam akal. Jika akal semakin sempurna, indah dan murni maka semakin sempurna pula kebahagiaan yang diperoleh. Puncak tertinggi yang dialami akal adalah ma’rifatullah (mengenal Allah), yaitu mengenal Allah dengan “sempurna”. Capaian seperti ini adalah capaian paling indah dan paling berseri. Tahap puncak inilah yang dimaksud Hamka sebagai kebahagiaan sejati.

Perlu ditegaskan di sini bahwa pemurnian atau penyucian akal menurut Hamka juga bermakna penyucian hati. Karena menurutnya, akal tidak akan dapat menuju kesempurnaan jika tidak mampu mengendalikan dirinya dari hawa nafsu.

Kebahagiaan dapat ditemukan dengan cara: Pertama, membangun mentalitas dan jiwa beragama. Kedua, mengendalikan hawa nafsu. Ketiga, Ikhlas dan Nashihat. Keempat, memelihara kesehatan jiwa dan badan. Kelima, meperkokoh tanggung jawab sosial dan kemasyarakatan.

Masalah pokok yang dijawan penelitian ini adalah bagaimana konsep atau pandangan Hamka tentang kebahagiaan.

Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research). Sumber datanya dapat dibagi kepada dua klasifikasi, yaitu primer dan sekunder. Sumber data primer adalah karya asli Hamka terutama Tasauf Modern , Falsafah Hidup, Lembaga Budi, Lembaga Hidup dan Tasauf Perkembangan dan Pemurniannya. Sumber data primer, yaitu karya Hamka yang tidak berkenaan dengan data pokok dan karya peneliti lain yang berkaitan.

Dari kedua sumber data tersebut dilakukan inventarisasi dan klasifikasi data, baru kemudian diolah dengan metode deskriptif-analisis, interpretasi, dan heuristika. Hasil dari penerapan metode dimaksud, disajikan sesuai dengan kepentingan kerangka pembahasan.

Kata Kunci: Hamka, Kebahagiaan, Tasauf, Akal, Ma’rifatullāh.

I.       Pendahuluan

Kebahagiaan adalah harapan dan tujuan setiap orang. Dalam perspektif filsafat, kebahagiaan menjadi puncak pencapaian moral atau akhlak. Pembahasan teoritis dan praktis tentang kebahagiaan dalam Islam, terdapat dalam khazanah filsafat dan tasawuf. Penekanan pembahasannya adalah bagaimana upaya mencapai kebahagiaan sebagai tingkat kepuasan atau kelezatan tertinggi.

Pada tataran teoritis dan praktis, filosof berbeda dengan sufi dalam melihat kebahagiaan. Secara umum, filosof meletakkan pencapaian kebahagiaan pada kemampuan olah nalar (akal), sementara sufi meletakkannya pada penajaman dan penyucian hati (żawq). Pandangan filosof dipelopori oleh Al-Farabi, yang melihat bahwa capaian tertinggi manusia adalah ketika manusia telah sanggup menerima limpahan ilmu dari akal aktif (al-‘aql al-fa’’āl),[1] sementara sufi, di antaranya diwakili oleh Al-Gazali berpandangan bahwa kebahagiaan jika hati manusia telah sanggup untuk melintasi tabir (hijab) yang menghalangi penglihatan mata batinnya untuk melihat rahasia-rahasia Maha Gaib, Allah SWT. Hal ini disebut oleh Al-Gazali sebagai ma’rifatulāh.[2]

Penjelasan di atas memperlihatkan bahwa filsafat dan tasauf menempuh jalan berbeda dalam mencapai kebahagiaan, meskipun perbedaan itu tidak terlalu ekstrim. Alasannya adalah jalan yang ditempuh filsafat dan tasauf sama-sama memerlukan metode yang memiliki titik temu. Jalan filsafat memerlukan secara relative żawq, sebaliknya jalan tasauf membutuhkan pula penajaman atau penyucian akal.

Hamka (1908-1981) salah satu pemikir besar muslim Indonesia, yang menjadi objek penelitian ini, terlihat bahwa paradigma pemikirannya tentang kebahagiaan adalah pemaduan tasauf dan filsafat. Hamka mengatakan bahwa hal pokok untuk mencapai kebahagiaan adalah dengan memberdayakan akal. Akal menurutnya  akan menentukan peringkat bahagia yang dapat dicapai manusia. Hal ini karena akal mampu membedakan yang baik dan yang buruk, menjadi penimbang dan penyelidik hakikat dan kejadian segala sesuatu. Jika akal semakin sempurna, indah dan murni, maka semakin tinggi pulalah peringkat bahagia yang dicapai manusia. Karena itu, menurut Hamka, kesempurnaan kebahagiaan tergantung kepada kesempurnaan akal.[3]

Meskipun peran akal paling menentukan, tetapi semata-mata menggantungkan usaha kepada akal, menurut Hamka, tidak akan menyampaikan manusia kepada kebahagiaan yang paripurna. Ia mengatakan:

Pekerjaan akal yang paling berat ialah memperbedakan mana yang buruk dan mana yang baik, serta memahamkan barang sesuatu. Tetapi dengan semata-mata akal saja belum pula cukup untuk mencapai bahagia, karena akal adalah berhenti perjalanannya sehingga itu. Adapun yang menjadi perantaraan antara akal dengan bahagia, ialah irādah, kemauan. Walaupun akal sudah lanjut dan tinggi, kalau tidak ada iradah untuk mencapai bahagia, bahagia itu tidak akan tercapai.[4]

Secara praktis, orang dapat saja menyebut dirinya telah mencapai kebahagiaan. Misalnya, karena tujuan jangka pendeknya tercapai. Tetapi secara teoritis dan praktis, hal itu bukanlah bahagia sejati. Menurut Hamka, kebahagiaan sejati akan tercapai jika hati dan khayal manusia tidak lagi terikat kepada hal-hal yang bersifat lahiriyah. Sebab keterikatan kepada alam lahir justeru menyesatkan manusia dalam mencapai tujuan hakiki hidup manusia. Hamka menjelaskan:

Sebab itu sekali-kali tidaklah bernama bahagia dan nikmat jika hati dan khayal kita hanya kita perhubungkan dengan barang isi alam yang lahir ini, yang harganya hanya menurut keinginan kita. Jangan terlalu diperintah oleh khayal, oleh angan-angan, oleh fantasi, karena itu jugalah yang mengencongkan kita dari bahagia yang sebenarnya tujuan hidup, yang mulanya tangis, akhirnya tertawa, dan mulanya pahit akhirnya manis.[5]

Penjelasan terakhir memperlihatkan pandangan Hamka terhadap perlunya riyādlah qalbiyyah, yakni penyucian hati sebagaimana dikenal dalam tasawuf.

Penekanan Hamka terhadap pendayagunaan akal dan hati secara integratif dalam mencapai kebahagiaan memperlihatkan bahwa Hamka berupaya menegaskan perbedaan teorinya dengan apa yang dibangun oleh filosof maupun sufi. Analisa ini mengundang pertanyaan: Benarkah demikian? Bagaimana Hamka mengintegrasikan fungsi akal dan hati untuk melahirkan amal sholeh (pikiran, sikap dan tindakan) dalam mencapai kebahagiaan? Jawaban atas pertanyaan ini menuntut penjelasan tentang konsep menemukan kebahagiaan menurut Hamka.

Berdasarkan pemikiran di atas, maka masalah pokok yang dikaji dalam studi ini adalah bagaimana konsep atau rumusan Hamka tentang kebahagiaan. Lebih rinci, masalah pokok dimaksud dapat identifiksasi sebagai berikut: Bagaimana teori kebahagiaan menurut Hamka; Bagaimana upaya menemukan kebahagiaan menurut Hamka; Bagaimana bahagia sejati dalam pendangan Hamka.

Penelitian ini bertujuan menginventarisasi, mensistematisasi dan mengkonstruk pemikiran Hamka tentang kebahagiaan. Penelitian ini diharapkan berguna untuk memahami kebahagiaan dalam perspektif yang berbeda, yakni integrasi filsafat dan tasauf pada seorang pemikir Islam yang tumbuh dan besar di Indonesia.

Kajian tentang kebahagiaan telah banyak dilakukan, bahkan sejak Yunani kuno. Pythagoras yang diperkirakan lahir pada 580 SM, berpandangan bahwa kebahagiaan dapat dicapai dengan mendidik batin, yakni dengan cara membersihkan ruh. Ruh manusia yang meninggal, menurutnya ¾ jika belum suci ¾ tidak akan mampu naik menuju Tuhan. Ruh tersebut kembali lagi ke dunia, dan masuk ke dalam jasad binatang. Kemudian berpindah-pindah dari satu hewan ke hewan lain, sampai ruh tersebut suci. Jika telah suci, maka ruh tersebut kembali kepada Tuhan.[6]

Berbeda dengan Pythagoras, Socrates (470-399 SM) membangun teori kebahagiaannya di atas landasan etik yang rasional. Dasar dari budi atau etika itu menurutnya adalah tahu atau pengetahuan. Menurutnya, orang yang berpengetahuan dengan sendirinya berbudi baik. Semakin tinggi pengetahuan seseorang, maka jiwanya akan semakin dekat kepada Tuhan, karena jiwa menurutnya adalah elemen yang berasal dari Tuhan. Dengan demikian, maka manusia akan dapat merasakan kehadiran Tuhan, yaitu dengan bisikan ilahiyah yang akan membimbing segala perbuatannya. Dengan demikian, ia pun akan semakin mudah meraih kebahagiaan.[7]

Plato (427-347 SM), filsuf besar murid Socrates berpendapat bahwa kebahagiaan sejati dapat diperoleh jika orang mencapai Ide Kebaikan. Ide Kebaikan secara universal menciptakan segala hal yang indah dan benar, merupakan induk dan tambang cahaya di dunia ini, serta sumber kebenaran dan akal. Ide Kebaikan juga merupakan sumber nalar, kebenaran, dan nilai tujuan moral. Dengan mencapai Ide Kebaikan, akan menciptakan kebenaran dan kebaikan absolut yang tunggal, yang melapangkan jalan menuju Tuhan.[8]

Untuk sampai kepada Ide Kebaikan, menurut Plato, orang harus terus-menerus mengasah budinya, sehingga ia sampai kepada budi filsafat. Cara mengasah budi itu adalah dengan berupaya mempertinggi pengetahuan dan pengertian. Sebagaimana lebih dahulu diajarkan oleh Socrates, guru Plato.[9]

Pandangan lain, Plotinus (lahir tahun 205 M di Lykopolis di Mesir), berpendapat bahwa kebahagiaan diperoleh jika orang berhasil membangun “aku”-nya yang bersih atau “aku” rohaniah yang suci, yang akan memungkinkannya mencapai alam ruhaniah. Masalahnya menurut Plotinus, pada “aku” rohaniyah yang tinggi bergantung “aku” yang buas, yang menariknya dan merendahkan martabatnya. Oleh karena itu, agar dapat mencapai jiwa yang murni (“aku” rohaniyah yang suci), maka seseorang harus memutuskan keterikatan jiwa kepada orientasi keduniaan. Kongkretnya, manusia harus meninggalkan hidup kebendaan, dan berupaya mengkondisikan jiwanya untuk hidup dalam lingkungan alam rohaniah dan alam pikiran. Dengan cara itu, orang akan naik setingkat demi setingkat, dan akhirnya sampai kepada Yang Satu, Yang Baik (Tuhan). Selama jiwa  terikat kepada badan atau benda, maka akan sukar mencapai tujuan yang suci (Tuhan).[10]

Di kalangan pemikir muslim, misalnya Al-Farabi berpandangan bahwa  kebaikan yang paling agung dan kebahagiaan terbesar yang dapat dialami manusia adalah pencapaian jiwa manusia pada tingkat akal mustafād, yakni tingkat terakhir yang dapat dicapai, yang telah memberi kesanggupan kepada manusia untuk melakukan kontak dengan akal aktif dan menerima emanasi ma’qūlāt darinya.[11] Sementara Al-Ghazali berpendapat bahwa puncak seluruh kenikmatan itu itu menurutnya  adalah kenikmatan hati, yakni dengan ma’rifatullāh (mengenal Allah dengan hati). Hati memang tercipta untuk ma’rifatullāh. Menurutnya, semakin dalam ma’rifatullāh, semakin besar dan agung pula kenikmatan yang diperoleh. Hal demikian terjadi karena obyek pengetahuan (ma’rifat) adalah Allah, satu-satunya wujud paling atau maha mulia. Dengan demikian, tidak ada ma’rifat yang lebih agung selain ma’rifatullāh; serta tidak ada kenikmatan yang lebih agung dari kenikmatan ma’rifatullāh.[12]

Di kalangan pemikir muslim yang datang kemudian, kajian tentang kebahagiaan misalnya dilakukan oleh An-Naraqi.[13] Kebahagiaan menurutnya termanifestasinya sifat-sifat Ketuhanan. Jiwa manusia yang benar-benar bahagia, menurutnya, dibangun dengan pengetahuan dan cinta Tuhan. Ia adalah jiwa yang dipancarkan oleh cahaya terang yang berasal dari kekuasaan Tuhan. Ketika hal itu terjadi, tidak ada yang memancar darinya kecuali keindahan, karena keindahan berasal dari sesuatu yang indah. Pada zaman modern, Muhammad Iqbal, seorang pemikir anak benua India, berpandangan bahwa kebahagiaan yang agung akan diperoleh jika manusia telah mencapai taraf insan kamil, yaitu kesempurnaan proses kehidupan di dalam ego (pribadi). Semakin sempurna kepribadian, maka semakin sejati ego, dan semakin dekat pula kepada Tuhan. Hanya ego sejati yang dapat dekat ke Super Ego (Tuhan).[14]

Beberapa kajian yang dilakukan terhadap Hamka, sejauh ini belum ada yang mengkhususkan tentang topik kebahagiaan. Kajian yang dapat dipandang berkaitan dengan studi ini adalah studi tentang tasawuf Hamka, dengan stressing kajian pada pandangan tasauf modern Hamka. Studi lainnya adalah berkenaan dengan pemikiran Hamka tentang pendidikan, tafsir, teologi, psikologi dan politik.[15]

Dengan demikian, kajian tentang konsep kebahagiaan Hamka, meskipun berada dalam lingkup pemikiran tasaufnya, sampai penelitian ini dilakukan adalah kajian yang baru di tengah peta penelitian tentang Hamka.

Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research). Sumber datanya dapat dibagi kepada dua klasifikasi, yakni pertama, sumber data primer, yaitu karya asli Hamka yang secara khusus berisi pembahasan tentang konsep kebahagiaan. Karya dimaksud adalah Tasauf Modern. Sejumlah karya Hamka yang lain yang mengandung konsep kebahagiaan juga akan diperlakukan sebagai data primer. Misalnya Falsafah Hidup, Lembaga Budi, Lembaga Lembaga Hidup dan bagian-bagian tertentu Tafsir Al-Azhar. Kedua, sumber data sekunder, yaitu karya Hamka yang tidak berkenaan dengan data pokok, dan karya para peneliti lain yang berkaitan dengan masalah pokok penelitian ini.

Setelah sumber data primer dan sekunder ini dikumpulkan, maka penulis melakukan inventarisasi dan klasifikasi data, baru kemudian diolah dengan memakai metode yang lazim digunakan dalam penelitian filsafat. Klasifikasi data dimaksud, pertama, tentang biografi Hamka, diolah dengan metode deskriptif-analisis. Kedua adalah pemikiran teoritis tentang konsep kebahagiaan dari berbagai pemikir, diolah dengan metode deskriptif-analisis dan interpretasi. Ketiga yaitu konsepsi atau teori Hamka tentang manusia bahagia, dengan penekanan kajian pada tawaran konseptual Hamka tentang upaya mencari kebahagiaan. Hal terakhir ini akan dikaji dengan pendekatan interpretasi, deskriptif-analisis dan heuristika.

Hasil dari penerapan metode di atas, maka akan disajikan dalam sebuah laporan penelitian sesuai kepentingan kerangka pembahasan.

II.          Biografi Hamka

Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) lahir di Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat pada hari Ahad, tanggal 16 Februari 1908 M, bertepatan dengan 13 Muharram 1326 H. Hamka kecil diasuh dan dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama.[16] Ayahnya bernama Haji Abdul Karim Amrullah ― biasa disebut Haji Rasul ― bin Syekh Muhammad Amrullah gelar Tuanku Kisai bin Tuanku Abdullah Saleh. Haji Rasul ― yang pernah mendalami agama di Mekkah ― merupakan salah seorang pelopor kebangkitan kaum mudo (kaum muda), dan tokoh gerakan Muhammadiyah di Minangkabau. Ibu Hamka bernama Siti Safiyah Tanjung binti Haji Zakaria.[17] Dari genealogis ini dapat dinyatakan bahwa Hamka berasal dari keluarga yang memegang teguh agama dan memiliki hubungan dengan generasi pembaharu Islam di Minangkabau pada akhir abad ke XVIII dan awal abad ke XIX.

Sejak kecil, Hamka menerima dasar-dasar agama dan pelajaran membaca Al-Qur’an dari ayahnya. Di usia enam tahun, ia dibawa ayahnya ke Padangpanjang, sebuah kota dengan gairah pendidikan keagamaan yang diperhitungkan di Nusantara pada waktu itu. Pada usia tujuh tahun, ia dimasukkan ke sekolah desa ― hanya sempat dilaluinya tiga tahun ― dan pada malam hari belajar mengaji Al-Qur’an dengan ayahnya sampai khatam.

Pada usia 12 tahun, kedua orang tuanya bercerai. Sepuluh bulan setelah itu, ibunya menikah dengan seorang saudagar dari Tanah Deli, yang menyebabkan Hamka disebut sebagai anak tinggal. Dalam adat, seorang anak tidak pantas tinggal bersama ayah. Akibatnya ia sering dicemooh. Perceraian ini berdampak terhadap perkembangan kejiwaan Hamka kemudian. Melihat keadaan ini, karena khawatir terhadap masa depan anak, ayahnya menyuruhnya mengaji kepada Syekh Ibrahim Musa di Parabek dekat Bukittinggi.[18]

Pendidikan formal yang dilalui Hamka ― seorang yang kelak memiliki kapasitas intelektual yang diakui dunia Islam ― sangat sederhana. Mulai tahun 1916 sampai 1923 (kurang lebih tujuh tahun), ia belajar agama pada lembaga pendidikan Diniyah School dan Sumatera Thawalib di Padangpanjang dan di Parabek.[19] Di antara gurunya waktu itu adalah Syekh Ibrahim Musa Parabek, Engku Mudo Abdul Hamid Hakim dan Engku Zainuddin Labay el-Yunusy.

Guru yang terakhir ini banyak memberi pengaruh terhadap perkembangan intelektual dan pemikiran keagamaan Hamka. Sambil bekerja pada percetakan dan perpustakaan milik Engku Zainuddin bersama Engku Datuk Sinaro, dengan kemampuan bahasa Arab dan ingatannya yang kuat,[20] ia menyempatkan diri membaca bermacam-macam buku tentang agama, filsafat, hingga sastera. Di sinilah ia mulai berkenalan dengan pemikiran-pemikiran filsafat Arsitoteles, Plato, Pythagoras, Plotinus, Ptolemeus dan lain-lain dalam usia yang masih muda (kl. 12 tahun).[21]

Pergaulannya dengan Engku Zainddin semakin membangkitkan gairah intelektualnya. Namun setelah guru yang dicintainya itu wafat, ia merasa gairah dan semangat intelektualnya tidak lagi tersahuti di Padangpanjang. Oleh karena itu, ia berhasrat merantau, dan yang ditujunya adalah pulau Jawa, yakni Pekalongan, tempat kakak iparnya A.R. Sutan Mansur.[22]

Sesampainya di Yogyakarta (1924), Hamka tidak langsung ke Pekalongan. Untuk sementara waktu ia tinggal bersama pamannya (adik dari ayahnya), Ja’far Amrullah, di desa Ngampilan. Oleh pamannya, ia diajak mempelajari kitab-kitab penting kepada beberapa ulama waktu itu, seperti Ki Bagus Hadikusumo untuk bidang tafsir,[23] R.M. Soeryopranoto dalam bidang sosiologi, K.H. Mas Mansur tentang filsafat dan tarikh Islam, Haji Fachruddin, H.O.S. Tjokroaminoto dalam bidang Islam dan Sosialisme, Mirza Wali Ahmad Baig,[24] A. Hassan Bandung, dan ― terutama ― A.R. Sutan Mansur.[25]

Perjumpaannya dengan tokoh-tokoh pemikir dan ulama dengan basic keilmuan yang berbeda tersebut, tentu berpengaruh baginya dalam  memperkaya wawasan dengan spektrum keilmuan yang luas. Tidak mengherankan jika Hamka selanjutnya termasuk pemikir atau ulama yang generalis. Sebagai bias keluasan pandangan tersebut, misalnya, ia berbeda dalam beberapa aspek pemikiran dengan gurunya A.R. Sutan Mansur. Salah satu perbedaan tersebut adalah metode dan pendekatan yang mereka gunakan dalam memahami universalitas Islam. Hamka dalam hal ini concern pada diskursus yang lebih bebas dan tidak membatasi diri pada bidang keilmuan tertentu, sementara A.R. Sutan Mansur concern pada pemikiran yang ketat menyandarkan pandangan kepada Al-Quran dan Hadis.[26]

Pada tahun 1927 (usia 19 tahun), dengan maksud menuntut ilmu beberapa tahun, ia berangkat ke Mekkah guna menunaikan ibadah Haji, sambil menjadi koresponden pada harian “Pelita Andalas” di Medan. Di Mekkah, ia berjumpa dengan H. Agus Salim, pimpinan Sarekat Islam (SI). Agus Salim menasehati agar tidak usah terlalu lama di Mekkah, sebab Mekkah bukan tempat menuntut ilmu, akan tetapi tempat untuk meperbanyak ibadah. Oleh karena itu, jika niatnya menuntut ilmu, maka Agus Salim menganjurkan untuk belajar di tanah air saja.[27]

Sekembalinya dari tanah suci, ia tidak langsung pulang ke Minangkabau, tetapi ia menetap di Medan untuk beberapa waktu. Di Medan, ia banyak menulis artikel pada beberapa majalah, seperti “Seruan Islam” di Tanjung Pura, “Bintang Islam” sekaligus staf redaksinya, dan “Suara Muhammadiyah” di Yogyakarta. Ia tidak saja menulis artikel, tetapi juga buku. Di antara buku yang ditulisnya adalah Sedjarah Sajjidina Abu Bakar Shiddiq, Ringkasan Tarich Umat Islam, Agama dan Perempuan, Pembela Islam, Adat Minangkabau, Agama Islam, Kepentingan Tabligh, Ayat-ayat Mi’raj, roman Si Sabariah dan lain sebagainya.[28]

Kelihatannya, sejak pulang dari Jawa pada 1925, ketika usia Hamka 17 tahun, bakat dan semangat jurnalistiknya tidak pernah pudar sampai akhir hayatnya. Berpuluh buku telah dihasilkannya, baik yang berbentuk roman, biografi dan autobiografi, tasauf, tafsir, sosial-kemasyarakatan, pemikiran pendidikan (Islam), teologi, sejarah dan fikih. Namun demikian, tidak semua karyanya merupakan tulisan utuh, sebagian di antaranya adalah kumpulan artikel yang tersebar dalam berbagai media massa.[29]

Sejak mudanya, Hamka tidak saja seorang penulis produktif dan orator yang simpatik, tapi ia juga seorang aktifis pergerakan Islam. Bahkan ketika ia berumur 22 tahun, Persyarikatan Muhammadiyah telah memperhitungkannya sebagai tokoh muda potensial. Buktinya ia dipercaya menjadi pembicara pada Kongres Muhammadiyah ke-19 di Bukittinggi tahun 1930, dengan membawakan makalah berjudul “Agama Islam dan Adat Minangkabau”. Perkembangan berikutnya, aktivitasnya di Muhammadiyah pun meningkat. Ia sering diutus ke berbagai daerah, misalnya daerah-daerah di Sumatera dan Sulawesi.

Pada masa kemerdekaan, Hamka sudah lebih banyak tinggal di Jakarta. Bakat menulis dan jurnalistiknya tidak pernah padam. Ia pernah menjadi koresponden majalah Pemandangan dan Harian Merdeka. Pada 1950, ia mengarang karya autobiografinya yang berjudul Kenang-kenangan Hidup. Dalam sisi lain kehidupannya, ia juga pernah aktif di kancah politik melalui Masyumi. Bersama-sama dengan tokoh Masyumi lainnya, ia mendukung gagasan untuk mendirikan negara Indonesia yang berdasarkan Islam.[30]

Pada 1950, setelah melakukan ibadah Haji untuk yang kedua kalinya, ia melakukan lawatan ke beberapa negara Arab. Dalam lawatan ini, ia dapat bertemu langsung tokoh-tokoh seperti Thaha Husein dan Fikri Abadah, yang pemikiran-pemikiran mereka selama ini dikenalnya dengan baik. Sepulangnya dari lawatan ini, ia mengarang beberapa buku roman, di antaranya Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah.[31]

Agar komunikasi ide-ide dan pemikirannya lebih efektif, maka bersama K.H. Faqih Oesman dan M. Yusuf Ahmad, pada tanggal 15 Juli 1959, menerbitkan majalah bulanan Panji Masyarakat. Penerbitan majalah ini sekaligus meneruskan kembali majalah Pedoman Masyarakat yang pernah dipimpin Hamka di Medan.[32] Muatan majalah ini menitikberatkan pada soal-soal kebudayaan dan pengetahuan Islam.

Dalam perkembangannya, Panji Masyarakat berkembang cukup pesat dan diminati banyak kalangan. Sayangnya, majalah ini tidak bertahan lama karena dibreidel oleh pemerintahan Soekarno. Awal mala petaka ini terjadi tatkala ia memuat tulisan Mohammad Hatta yang berjudul “Demokrasi Kita”. Dalam tulisan tersebut, Hatta mengeritik konsep demokrasi terpimpin dan memaparkan pelanggaran-pelanggaran konstitusi yang telah dilakukan Soekarno. Tulisan ini “memerahkan telinga” Soekarno. Akibatnya pada bulan Mei 1960, kontinuitas majalah ini terpaksa ditutup.[33] Majalah ini terbit kembali pada tahun 1967 dan makin berkembang setelah pemerintahan Soekarno jatuh. Hal ini terbukti dengan oplahnya yang cukup besar, yaitu sekitar 50.000 eksemplar setiap kali penerbitan. Oleh karena besarnya minat masyarakat terhadap majalah ini, maka penerbitannya diperbanyak menjadi tiga kali sebulan.[34]

Pengalaman Hamka dalam berkarir dan dalam dunia intelektual dan kebudayaan di dalam dan diluar negeri menunjukkan bahwa Hamka termasuk di antara tokoh (ulama) besar yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, bahkan diakui oleh dunia Islam.

Dalam karir keagamaan di MUI, patut disebutkan di sini bahwa pada masa awal Hamka adalah tokoh sentral dalam institusi MUI. Pada mulanya Hamka menolak inisiatif pemerintah untuk membentuk badan fatwa tersebut. Penolakan ini muncul karena khawatir badan keagamaan tersebut akan menjadi alat pemerintah menjustifikasi kebijakan negara. Akan tetapi, karena alasan strategis, maka dalam deklarasi Muktamar MUI-I  (21-27 Juli 1975) di Jakarta yang ditandatangani 53 peserta, ia akhirnya menerima kehadiran lembaga ini dan kemudian terpilih menjadi ketua umum pertamanya.

Di bawah pimpinannya, MUI disegani dan dihormati sebagai lembaga fatwa yang dirasakan oleh umat keberadaan dan manfaatnya. Hal ini tentu aktualisasi dari kepribadian dan kapabilitasnya sebagai pimpinan umat. Atas keberhasilannya memimpin MUI pada masa bakti yang bertama, maka pada Munas MUI-II ia terpilih kembali sebagai Ketua Umum MUI masa bakti 1980-1985. Hanya saja belum genap setahun jabatan tersebut dipangkunya, dengan ikhlas ia meletakkan jabatannya sebagai ketua umum MUI pada bulan Mei 1981.[35] Jabatan ketua umum MUI ternyata merupakan aktivitas keummatannya yang terakhir, karena pada tanggal 24 Juli 1981, dalam usia 73 tahun, ia dipanggil ke hadirat Allah SWT dan dikebumikan di pemakaman Tanah Kusir, Jakarta Selatan.[36]

III.       Konsep Menemukan Kebahagiaan

Bagaimana pandangan Hamka dalam menemukan kebahagiaan? Pertanyaan tersebut akan dijelaskan jawabannya dalam pembahasan berikut.

A.    Membangun mentalitas dan jiwa beragama

Menurut Hamka, jalan yang mudah mencapai kebahagiaan adalah jalan yang direntangkan oleh agama. Agama (baca: Islam) menurut Hamka, akan mengantarkan orang kepada kebahagiaan jika seorang muslim memenuhi empat hal, yaitu iktikad yang bersih, yakin, iman dan agama.

1. Menumbuhkan iktikad yang bersih.

Kata i’tiqad (iktikad) berasal dari kata bahasa Arab. I’tiqad adalah bentuk masdar dari akar kata ‘a-qa-da, yang artinya ikatan, iman, kepercayaan, rukun, asas, dasar dan lain-lain. Kalimat seseorang telah beriktikad artinya hati orang tersebut telah terikat dengan suatu kepercayaan atau pendirian.[37]  Iktikad terletak dalam hati (qalb). Umumnya di kalangan orang-orang pintar, iktikad datang setelah lebih dahulu pikiran mereka menerawang ke dalam samudera ilmu pengetahuan untuk mencari jawaban-jawaban pertanyaan, misalnya tentang makna hidup. Dari pencarian itu, akhirnya mereka mendapatkan suatu kesimpulan pandangan, kemudian menjadi keyakinan. Keyakinan tersebut demikian kokoh, sehingga terikat kuat dan tidak retak. Keyakinan yang kokoh ini disebut iktikad.[38]

Menurut Hamka, suatu pandangan yang tidak didasarkan kepada pertimbangan akal pikiran, tetapi didasarkan kepada taklid buta, tidaklah dinamakan iktikad. Orang yang memiliki iktikad, ketika menghadapi suatu persoalan, maka ia tidak asal-asalan membuat kesimpulan, karena sesungguhnya kesimpulan pikirannya adalah iktikadnya.[39]

Dalam menjalani hidup dan kehidupan, seharusnya iktikad itulah yang diikuti, karena iktikad itu bersifat fitrati. Menurut Hamka, kalau manusia melawan iktikadnya, misalnya mengerjakan pekerjaan atau perbuatan yang bertentangan dengan iktikadnya, orang yang demikian berarti telah dikendalikan oleh kekuatan lain yang bukan kekuatan asli kehendak jiwanya, melainkan kekuatan yang dapat membahayakan dan menghancurkan dirinya, yakni hawa nafsu. Selama ia melawan iktikadnya, maka selama itu pulalah ia akan mengalami konflik kejiwaan, yakni pertentangan suara hati sanubarinya dengan hawa nafsunya. Akibatnya, jiwa akan mengalami penderitaan seperti penyesalan, split personality, gelisah, stress, takut dosa, cemas dan lain-lain.[40]

Penyakit kejiwaan tidak hanya merusak mental tetapi juga fungsi organisme tubuh. Orang yang sakit jiwa akan memiliki identitas kepribadian palsu. Hal ini menurut Hamka, pertanda bahwa jiwa seseorang telah kotor dan pikirannya tidak berfungsi lagi.[41] Konsekuensinya, ia semakin jauh dari iktikad yang jernih yang mampu mengantarnya menuju hidup bahagia.

2. Yakin

Yaqin (bahasa Arab) artinya nyata dan terang. Yaqin lawan dari syaq dan ragu-ragu. Syaq dan ragu-ragu tidak akan hilang jika tidak ada dalil  atau alasan yang kuat untuk menumbangkannya. Jika argumentasi yang diajukan cukup kuat dalam memenjawab suatu masalah, maka akan timbul keyakinan. Karenanya, keyakinan datang setelah cukup dalil atau setelah dilakukan penyelidikan. Menurut Hamka, dalam Al-Quran kata yakin diartikan sebagai suatu kepastian, seperti terdapat pada kalimat wa’bud rabbaka hatta ya`tiyaka al-yaqin (sembahlah Tuhan-mu sampai datang kepadamu yaqin). Sebagian mufassir menurutnya mengartikan yaqin dengan mati. Mati adalah suatu kepastian, sama pastinya dengan 2+2 = 4.[42]

Yakin adalah sifat ilmu pengetahuan. Dari tiga tingkatan atau sifat ilmu pengetahuan, yakin adalah sifat ilmu yang ketiga. Pertama adalah ma’rifah artinya tahu, kedua adalah dirayah artinya dialami, dan ketiga adalah yakin. Ada juga sarjana muslim sebagaimana dikutip Hamka yang membagi tingkatan ilmu kepada ‘ilm al-yaqin, haqq al-yaqin dan ‘ain al-yaqin.[43]

Menurut Hamka, untuk sampai kepada ‘ilm al-yaqin, maka harus melewati 10 pintu ilmu, yang terbagi kepada lima pintu panca indera (lahiriyah), dan lima pintu psikis (batiniyah). Pintu panca indera tersebut adalah pendengaran, penglihatan, perasaan lidah, perasaan kulit, dan penciuman hidung. Sedangkan lima pinti batiniyah dimaksud adalah akal, pikiran, kehendak, angan-angan dan nafsu. Menurutnya, kesepaduan ilmu yang diperoleh melalui pintu lahir dan pintu batin akan melahirkan keyakinan (‘ilm haqq al-yaqin). Hamka mencontohkan sebagai berikut:

Orang sakit merasai benar-benar, bahwa kopi susu itu  pahit, tetapi akalnya tidak mau menerima walaupun lidahnya sungguh percaya sungguh akan kepahitannya. Kata mata kita matahari itu kecil saja, kata timbangan akal  dan fikiran lebih besar dari bumi. Dari pertarungan yang tidak berhenti-henti ini timbullah keyakinan.[44]

Keyakinan tersebut menurutnya laksana kayu besar yang tumbuh dalam hati sanu bari, dahannya adalah amal (perbuatan) dan buahnya adalah ganjaran (hasil perbuatan dan pahala).[45]

Kaitan iktikad dengan keyakinan dapat dilhat dari definisi keduanya. Iktikad adalah kesimpulan yang lahir dengan deduksi-logis, sedangkan keyakinan muncul setelah sampai pada tingkat pengujian atau verifikasi (induksi-empirik). Dengan demikian, kata Hamka, ditilik dari kualitasnya, iktikad adalah tingkat pertama dan keyakinan adalah tingkat di atasnya (kedua). Maka, tiap-tiap keyakinan adalah iktikad, tetapi tidaklah tiap-tiap iktikad itu keyakinan. Oleh karena itu, memiliki iktikad saja tidak cukup, mestinya ditambah dengan keyakinan. Iktikad ― agar betul-betul kokoh ¾ harus diuji dengan keyakinan.

Semua agama dan berbagai aliran ideologi dunia adalah suatu iktikad bagi penganutnya, tetapi tidak semua orang sampai pada tingkat keyakinan dalam agama atau aliran ideologi yang dianut tersebut. Agama Islam adalah suatu iktikad. Karena itu, hendaklah disucikan pikiran, dibersihkan hati dan jiwa setiap saat, agar Islam menjadi iktikad yang diyakini.

3. Iman

Iman secara etimologi artinya percaya. Makna terminologis perkataan iman juga bermakna segala amal perbuatan yang lahir dan yang batin. Sebagian pemikir muslim mengatakan bahwa iman itu adalah qawl wa a’mal (perkataan dan perbuatan). Maksudnya perkataan lidah dan perbuatan hati dan anggota badan. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa iman itu memiliki lebih dari 60 ranting, yang paling tinggi ialah “la ilaha illallah”, dan yang paling rendah ialah membuang duri dari tengah jalan.[46] Dari beberapa ayat Al-Quran dapat ditarik kesimpulan bahwa iman itu disamping suatu kepercayaan ketuhanan juga termasuk aktivitas perkataan dan perbuatan yang bermakna dan bertujuan pengabdian kepada Tuhan.[47]

Iman yang sesungguhnya (iman mutlak) terlingkup di dalamnya Islam. Iman, kata Hamka, lebih umum dari Islam dan lebih meliputi. Pendapat ini didasarkan Hamka kepada sebuah hadis yang menerangkan ketika Rasulullah SAW memberikan pengajaran Islam kepada utusan kaum ‘Abd al-Qiys, Rasulullah berkata:

Saya suruh kamu sekalian beriman kepada Allah. Tahukah kamu bagaimana iman kepada Allah itu? Iman kepada Allah ialah mengucapkan syahadat, bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad Rasul-Nya, mendirikan sembahyang, mengeluarkan zakat, dan menyisihkan seperlima dari harta rampasan perang untuk dimasukkan ke dalam kas negeri (bait al-māl).[48]

Hadits lain yang diriwayatkan Umar ibn Khattab, menjelaskan bahwa suatu ketika Jibril datang dengan menyerupakan dirinya sebagai seorang laki-laki, lalu dia bertanya kepada Nabi SAW:

“Apakah Islam?”

Nabi menjawab, “Islam ialah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad pesuruh-Nya, mendirikan sembahyang, mengeluarkan zakat, puasa bulan Ramadan, naik Haji jika kuasa.”

“Apakah ihsan?” Jawab Nabi, “Ihsan ialah bahwa engkau beribadat kepada Allah  seakan-akan engkau melihat Dia. Walaupun engkau tidak melihat Dia, namun Dia tetap melihat engkau.”[49]

Hadis di atas juga mengimplisitkan perbedaan arti iman dan islam. Menurut Hamka, iman menghasilkan amal saleh. Amal saleh adalah Islam. Karena itu Islam adalah manifestasi (bekas) dari iman. Ibarat pohon, akarnya adalah iman, pohonnya islam, dan nutrisinya supaya subur terus adalah ihsan.[50]

Realitasnya, iman yang tumbuh dalam hati seseorang memiliki fluktuasi atau berdinamika, bisa bertambah dan bisa berkurang. Hal ini berkaitan dengan dinamika keyakinannya. Jika dalam masa tertentu ia diliputi oleh keraguan, menandakan imannya menurun. Hamka mengilustrasikan demikian:

…hati itu hanya dapat memuat misalnya 100 benda, tidak dapat dilebihi dan tidak dapat pula dikurangi. Muatan yang seratus itu ialah iman dan ragu. Kalau telah dipenuhi oleh iman 25%, tandanya dipenuhi oleh ragu 75%. Dan kalau telah ada iman 50%, tentu ditempati pula oleh ragu 50%. Kalau iman cukup menjadi 100%, tentu tidak ada ragu di dalamnya lagi.[51]

Oleh karena itu, iman yang sedang tumbuh harus senantiasa dijaga dan dipersubur. Menurut ulama terdahulu dari kalangan sahabat dan tabi’in, agar iman terus meningkat dan diterima Tuhan, maka harus disempurnakan  dengan tiga syarat: tashdīq bi al-qalb (membenarkan dengan hati), iqrār bi al-lisān (menyatakan dengan lisan), dan a’māl bi al-arkān (membuktikan dengan tindakan).

Tentang hal tersebut Hamka berkomentar:

Kalau kurang satu di antara ketiga syarat itu, tidaklah dapat dikatakan sempurna iman itu. Kalau seseorang mengerjakan suatu amalan, sedang hatinya tidak percaya, boleh dia menjadi munafik. Kalau lidahnya saja yang mengaku, hati dan perbuatannya tidak, jatuhlah dia menjadi kafir juhud. Ada dia mengerjakan, dan lidahnyapun mengakui pula, tetapi tidak diketahuinya kaifiatnya, maka ditakuti bahwa imannya itu akan jatuh kepada kesalahan. Oleh sebab itu, maka hendaklah dituntut segala ilmu yang bisa menguatkan iman.[52]

Bertambah dan berkurangnya iman, menurut Hamka dapat diukur dengan berpedoman kepada petunjuk al-Quran dan Hadis Nabi. Contohnya butir-butir yang terdapat pada surat al-Anfal (8): 2-4. Di samping itu, orang dapat merasakan tingkat kesempurnaan imannya. Menurutnya, orang yang merasa imannya belum sempurna, menandakan dalam dirinya terdapat motivasi untuk menuju iman yang sempurna. Tetapi, jika ia merasa bahwa imannya telah sempurna, menandakan imannya telah melemah.[53]

4. Agama (ad-Din)

Arti dasar ad-din adalah menyembah, menundukkan diri, atau memuja. Dalam bahasa Indonesia, istilah yang popular merujuk kepada istilah ad-din adalah agama. Menurut Hamka, agama ialah buah atau hasil kepercayaan yang tertanam dalam hati, yaitu ibadah yang lahir karena telah memiliki iktikad, dan lalu menurut dan patuh karena iman. Ibadah tidak akan lahir kalau tidak ada tashdiq (pembenaran), dan kepatuhan (khudhu’) tidak akan muncul kalau bukan karena ketaatan yang lahir karena tashdiq atau iman. Itulah sebabnya mengapa agama disebut sebagi hasil atau puncak dari iktikad, tashdiq dan iman. Jika iman bertambah kuat, maka agama bertambah teguh; dan jika keyakinan bertambah kokoh, maka ibadah yang dilakukan bertambah bersih.[54]

Wujud dan tujuan agama itu sejak Adam sampai Muhammad SAW adalah satu yaitu menyerahkan diri kepada Tuhan sepenuhnya (aslama, yuslimu, islāman). Titik penting agama itu ialah “menyembah kepada Allah dan tidak mensyerikatkannya dengan yang lain.”[55]

Adapun tujuan agama itu menurut Hamka sebagaimana yang tersebut dalam al-Quran surat asy-Syura/42 ayat 13, yaitu:

Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).[56]

Di bagian lain disebutkan:

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”[57]

Agama menyuruh manusia mempergunakan akal dan pikiran, melenyapkan perdebatan dan konflik yang diakibatkan oleh perbedaan pendapat tentang tauhid. Untuk tujuan ini, Tuhan mengirimkan Rasul-rasul-Nya sejak Nabi Nuh hingga Nabi Muhammad. Menurut Hamka, jika perdebatan dan konflik dapat dihilangkan, dan hati manusia mendapat hidayah, serta penyelidikan terhadap masalah yang muncul telah sampai ke akar-akarnya, maka nur Ilahi akan datang dengan sendirinya,[58] sehingga manusia akan merasakan kedamaian dan keindahan hidup.

B. Mengendalikan Hawa Nafsu

Menurut Hamka, hawa itu hanyalah gelora, dan tidak memiliki asal.[59] Ia adalah suatu eksistensi psikologis di dalam diri manusia yang bekerja mendorong manusia untuk keluar dari kebenaran, kesucian dan kebaikan.[60] Hawa itu juga bermakna angin.[61] Angin adalah udara yang bergerak, yang dapat menggerakkan dan menggelorakan ruang yang dilewati atau disinggahinya. Hawa dalam diri setiap manusia adalah gelora yang mengandung “virus-virus” penyakit jiwa, yang dapat mendorong manusia untuk berbuat buruk. Bahkan, hawa (hawa nafsu) dapat merusak fitrah manusia, sehingga manusia tidak mengenal Tuhannya. Lebih dari itu bahkan hawa nafsu dapat memposisikan ‘diri’ sebagai tuhan bagi manusia yang terperangkap olehnya.[62]

Istilah ‘hawa nafsu’ dalam bahasa Indonesia merujuk kepada istilah hawa` dalam bahasa Arab. Jika kata hawa` dirangkai dengan kata lain, maka dapat berarti jatuh dari atas, naik, mendaki, menukik, bertiup, berjalan cepat, mengiang, megembara, mencintai, menyukai, menyenangi, menghendaki, dan lain-lain.[63] Konteks keseluruhan kata-kata itu bermakna suatu yang dinamis, yang bergerak, yang menggelora.

Menurut Hamka, hawa itu ada yang terpuji dan tercela. Hawa yang terpuji menurutnya adalah perbuatan Allah yang dianugerahkan kepada manusia, supaya manusia dapat membangkitkan kehendak mempertahankan diri dan mampu menangkis bahaya yang akan menimpa, juga berikhtiar mencari makan dan minum. Sedangkan hawa yang tercela ialah hawa nafsu yang terbit dari kehendak nafsu jahat (nafsu ammarah), yaitu suatu kehendak kepada keuntungan yang berlebihan dari kebutuhan.[64]

Dalam kaitan dengan pencapaian kesempurnaan jiwa, menurut Hamka, orang harus memaksimalkan fungsi akal, tanpa harus mematikan hawa nafsu, yakni dengan cara memungsikan pikiran, dan memposisikannya antara akal dan hawa nafsu. Posisi pikiran seperti ini bukan berarti memadukan kekuatan akal dan hawa nafsu, tetapi menempatkan pikiran pada posisi yang tetap dibimbing akal dalam berhubungan dengan hawa nafsu. Hawa nafsu tidak boleh dimatikan karena memiliki kekuatan-kekuatan yang berguna bagi tugas kekhalifahan manusia. Jika akal tidak mampu mengendalikan pikiran oleh karena pengaruh hawa nafsu, maka manusia akan mengalami nasib celaka, tetapi jika posisi akal tetap membimbing pikiran untuk mengarahkan kekuatan-kekuatan hawa nafsu, maka manusia akan memperoleh keutamaan jiwa. Namun upaya ini, sebagai mana sering menjadi penekanan Hamka, harus dibarengi dengan penyucian hati, layaknya cara sufi dalam riyadhah dan mujahadah-nya, sebagaimana dipraktikkan Nabi SAW dan para sahabatnya, sehingga akan beroleh taufik dan hidaya Ilahi.[65]

Sebagai dampak pertarungan antara akal dan hawa nafsu, kualitas diri manusia akan terpetakan kepada tiga macam:

1.      Orang yang kalah oleh hawa nafsunya, sampai ia terperangkap dan diperbudak oleh hawa nafsunya sendiri. Orang seperti inilah yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya.

2.      Orang yang senantiasa berjuang (mujahid) menghadapi tarikan-tarikan hawa nafsunya.

3.      Orang yang telah dapat mengalahkan dorongan hawa nafsunya, sehingga ia yang mengendalikannya, dan hawa nafsu sendiri pun tidak berdaya mengahadapinya.[66]

C. Ikhlas dan Nashihat

Menurut Hamka, ikhlas artinya bersih, tidak ada campuran, yakni ibarat emas tulen (murni) yang tidak memiliki campuran perak sedikitpun. Secara sederhana, ikhlas dapat diartikan pekerjaan yang bersih dari segala sesuatu. Sebagai contoh, seseorang yang bekerja mengharapkan pujian majikan atau atasan, maka ia dikatakan ikhlas kepada majikan atau atasan. Seseorang yang bekerja memburu harta tanpa bosan, karena semata-mata memikirkan perut, maka keikhlasannya ditujukan kepada perutnya.[67] Dengan demikian, menurut Hamka, sesuatu yang memotivasi dan menggerakkan tindakan sekaligus menjadi tujuan perbuatan dinamakan sikap ikhlas. Lawan ikhlas adalah isyrak, artinya beryerikat atau bercampur dengan yang lain. Ikhlas dengan isyrak  tidak dapat bertemu, sebagaimana tidak mungkin bertemunya gerak dengan diam. Hamka menegaskan, kalau ikhlas telah bersemi dalam hati, maka isyrak  tidak akan dapat menembus hati,  demikian sebaliknya.

Ikhlas dan isyrak bertempat dalam hati. Ketika hati seseorang berniat mengerjakan suatu pekerjaan, maka pada saat niat atau motivasi itu muncul, sebetulnya sudah dapat ditentukan hakikat dan tujuan pekerjaan tersebut. Misalnya, pekerjaan memberi pertolongan kepada fakir-miskin. Pekerjaan tersebut adalah baik, tetapi nilainya belum tentu baik, jika motivasinya bukan untuk kebaikan itu sendiri (ridha Allah SWT). Pekerjaan tersebut menurut Hamka, baru dinilai baik, jika sifat dan hakikat perbuatan itu didasarkan kepada ikhlas, yakni memberi pertolongan kepada fakir-miskin semata-mata karena Allah, bukan karena yang lain (misalnya mengharapkan  pujian dan sanjungan manusia). Oleh karena itu perkataan ikhlas hanya ditujukan kepada Allah SWT.[68]

Seseorang yang memiliki sikap ikhlas, dengan sendirinya akan memiliki sikap shiddaq (jujur dan tulus), karena ia menyandarkan sikap, pikiran dan tindakannya hanya kepada Allah. Sikap ikhlas akan menurunkan sikap-sikap lain, seperti jujur atau tulus,  adil,  amanah, dan sebagainya. Ikhlas dalam berpikir, bersikap dan berprilaku menjadi dasar untuk meraih kebahagiaan.

Istilah lain yang mempertajam makna ikhlas adalah nashihat. Hamka menyamakan arti kedua istilah ini, yakni suci bersih. Hamka mengambil alasan hadits ‘Ubay. ‘Ubay bertanya kepada  Rasulullah SAW, “Apakah artinya taubat nashuha?” (akar kata nashuha sama dengan nashihat). Rasulullah menjawab, “Taubat yang khalis, yang tidak akan diulangi lagi mengerjakan dosa-dosa itu.”[69]

Hadis lain yang menjadi alasan bahwa nashihat itu sama dengan ikhlas adalah hadis yang diriwayatkan oleh Tamīm ad-Dāri ¾ seorang sahabat Nabi SAW yang terkenal yang sebelumnya beragama Nasrani. Ia berkata, “Pada suatu hari Rasulullah SAW mengatakan bahwa agama itu ialah nashihat.” Lalu kami bertanya, “Kepada siapakah nasihat itu?” Rasulullah menjawab, “Kepada Allah, Kitab-Nya, kepada pemimpin-pemimpin kaum muslimin dan bagi kaum muslimin seluruhnya.”[70]

Mengomentari hadis tersebut, Hamka berkata:

Bagaimanakah maksud nasehat kepada tiap-tiap itu? Nasehat apakah yang dihadapkan kepada Allah? Kalau sekiranya nasehat itu hanya diartikan memberi nasehat bagi yang biasa kita pakai, tentulah Rasulullah SAW telah mengatakan suatu perkataan yang tidak pantas. Adakah pantas kita nasehati Allah? Sebab itu haruslah kembali kepada artinya yang sejati ― ialah ikhlas.[71]

Berikut ini dipaparkan pendapat Hamka tentang tujuan sikap ikhlas atau nashihat sebagaimana dinyatakan dalam hadis riwayat Tamim ad-Dari di atas.

1.      Ikhlas kepada Allah

Menurut Hamka, ikhlas kepada Allah artinya hanya semata-mata kepada-Nyalah percaya (beriman). Tidak ada keraguan sedikitpun untuk mempercayai dan meyakininya sebagai satu-satunya Tuhan, yang disembah dan dimohon pertolongan-Nya. Dia eksistensi yang Maha Tunggal dan puncak segala eksistensi. Dia entitas yang Maha Sempurna. Tidak ada satupun entitas yang menyamainya dan menyainginya. Ia Maha Besar dan Maha Agung. Ikhlas kepada-Nya berarti mengakui ke-Maha Agungan dan ke-Maha Besaran-Nya, tidak mempersekutukan-Nya. Seorang muslim harus menghadapkan kepada-Nya segala sifat-sifat yang penuh kesempurnaan, sekaligus melenyapkan persangkaan-persangkaan akan sifat-sifat kekurangan. Mencintai sesuatu karena Dia, sebaliknya benci kepada sesuatu karena Dia, berteman dengan orang yang taat kepada-Nya, “bermusuhan” dengan orang yang menentang-Nya. Di samping itu mengakui nikmat dan kebesarannya, mensyukuri segala pemberian-Nya baik sedikit atau banyak, sabar atas cobaan yang ditimpakan-Nya. Seru dan mohon pertolongan-Nya di waktu sempit dan pujilah Dia di waktu lapang. Mencintai manusia bukan karena eksistensinya sebagai manusia, tetapi karena mereka itu juga makhluk Allah.[72]

2. Ikhlas kepada Kitab Allah

Ikhlas kepada Kitab Allah artinya secara konsisten menjadikan al-Qur`an sebagai way of life, yang diimani dan diyakini kebenarannya.  Menurut Hamka, al-Qur`an menjadi sumber motivasi, inspirasi dan pemikiran. Darinya dibangun kerangka pikir keilmuan, kerangka sikap dan prilaku. Dengan ikhlas kepada al-Qur`an akan menjadikan manusia berakhlak mulia.[73]

3. Ikhlas kepada Rasul Allah

Ikhlas kepada Rasulullah maksudnya mengakui dengan sungguh risalah yang dibawanya, mengikuti apa yang diperintahkannya, dan menjauhi larangannya, membelanya, memuliakannya, mencintainya, menghidupkan sunnahnya secara intensif, menyampaikan syariatnya secara ekstensif, memegang teguh ilmu dan budi pekerti yang ditinggalkannya, dan sebagainya. Sebagai konsekuensi sikap di atas, maka seorang muslim menjadikan musuh setiap orang yang memusuhinya, membela kemuliaan dan kehormatannya sebagai Nabi dan Rasul Allah, menafikan segala tuduhan dan fitnah yang dihadapkan kepadanya. Penegasan al-Qur`an yang dijadikan Hamka sebagai dalil sebagai berikut:

“Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”[74]

Mencintai Rasul, menghendaki pula kecintaan terhadap sahabat-sahabat dan keluarganya, dan akhirnya mencintai seluruh kaum muslimin.

4. Ikhlas kepada Pemimpin Kaum Muslimin

Ikhlas kepada pemimpin dibuktikan dengan pembelaan terhadap tindakan pemimpin yang benar, mentaati perintah dan larangan pemimpin selama  tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip al-Qur`an dan Sunnah. Di samping itu seorang muslim harus membantu agar tercipta suasana kepemimpinan yang kondusif, mengingatkan pemimpin jika melanggar undang-undang atau peraturan dan tata moral secara arif.[75]

5.      Ikhlas atau Nashihat kepada Kaum Muslimin

Ikhlas kepada kaum muslimin berarti tidak memisahkan diri dari mereka, terlibat dalam setiap persoalan mereka, berusaha memberikan jalan keluar atau pemecahan masalah-masalah mereka, menaburkan cinta dan kasih sayang di tengah-tengah mereka, dan sebagainya. Intinya menurut Hamka, yakni bersikap jujur, adil, cinta dan kasih-sayang terhadap sesama kaum muslimin.[76]

D. Memelihara Kesehatan Jiwa dan Badan

Dalam pandangan Hamka, kesehatan jiwa seperti halnya kesehatan badan dapat diukur. Jika kesehatan badan dapat dikur dengan teknologi kesehatan, maka kesehatan jiwa dapat diukur dengan ukuran-ukuran atau indikator seperti syaja’ah, ‘iffah, hikmah dan ‘adalah. Jika keempat macam indikator itu dimiliki jiwa, maka jiwa tersebut adalah jiwa yang sehat.

Kesehatan jiwa dan jasmani adalah faktor paling penting meraih kebahagiaan. Hamka memandang bahwa kesehatan kedua dimensi ini harus bersinergi secara simbiotik, padu dan utuh. Karena itu menurutnya tidak mungkin hanya memperhatikan kesehatan jiwa dan melupakan kesehatan badan, begitu sebaliknya. Tentang ini Hamka berkomentar:

Kalau jiwa sehat, dengan sendirinya memancarlah bayangan kesehatan kepada mata, dari sana memancar nur yang gemilang, timbul dari sukma yang tiada sakit. Demikian juga kesehatan badan, membukakan fikiran, mencerdaskan akal, menyebabkan juga kebersihan jiwa. Kalau jiwa sakit, misalnya ditimpa penyakit marah, penyakit duka, penyakit kesal, terus dia membayang kepada badan kasar, tiba di mata merah, tiba di tubuh gemetar.

Dan kalau badan ditimpa sakit, jiwa pun turut merasakan, fikiran tidak berjalan lagi, akal pun tumpul.[77]

Menurut Hamka, jiwa yang sehat (jiwa yang utama) membutuhkan hal-hal yang utama pula, misalnya mencari ilmu dan hikmah (kearifan), dan segala upaya yang bertujuan membersihkan diri (jiwa).

Penjelasan di bawah ini akan menitikberatkan pembahasan pada kesehatan jiwa, karena topik seperti inilah yang menjadi concern Hamka dalam karya-karyanya.

Sebagai disinggung di atas, puncak kesehatan jiwa menurut Hamka adalah tercapainya jiwa utama. Untuk mencapai ini, menurutnya, perlu memperhatikan lima hal pokok: pertama, bergaul dengan orang-orang berbudi (intelek). Kedua, membiasakan kegiatan berfikir. Ketiga, menahan syahwat dan marah. Keempat, tadbir (bekerja dengan teratur dan terencana). Kelima, introspeksi diri.[78] Berikut ini akan dijelaskan lima hal pokok dimaksud:

1.      Bergaul dengan orang-orang berbudi (intelek).

Interaksi seseorang dengan orang lain atau masyarakatnya akan berpengaruh terhadap perkembangan kejiwaan dan pemikirannya. Bahkan dapat mempengaruhi ideologi dan keyakinannya. Oleh karena itu agar perkembangan jiwa berjalan kearah kesempurnaan, maka kata Hamka, hendaklah berinteraksi dengan orang-orang yang berbudi (intelek), yakni mereka yang dapat dipetik manfaat positif untuk perkembangan diri. Kenyataannya, sering kali seorang yang bersih jiwa, lalu keruh. Hal ini sebagai dampak keterpedayaan seseorang dalam dinamika sosial yang dipengaruhi oleh mereka yang berjiwa keruh.[79]

  1. Membiasakan kegiatan berpikir (mengasah pikiran)

Tercapainya kesehatan jiwa erat kaitannya dengan asah pikiran. Otak yang digunakan untuk berpikir, jika dibiarkan pasif, maka mengalami penyakit bingung dan kedunguan.[80] Seorang yang dungu tidak akan memiliki pendirian dan cita-cita. Bahkan ia dapat kehilangan identitas kepribadian. Menurut Hamka, kondisi yang demikian akan memposisikannya bagaikan ‘orang mati’ di tengah pergaulan sosial. Karena itu menurutnya, kekuatan berpikir harus ditumbuhkan dan dilatih sejak kecil, sehingga kelak akan dapat mengarahkan kekuatan sejarah dan menjadi mujahid sosial.[81]

Seseorang yang terus mengasah pikiran dan menimba pengalaman, maka pada suatu saat ia akan menyadari bahwa rahasia (ilmu) Tuhan itu sangat luas dan dalam, dan apa yang ia miliki hanya bagian yang sangat sedikit dari ilmu Tuhan. Kesadaran yang demikian, menurut Hamka, akan melahirkan budi atau kearifan.[82]

3.      Menjaga syahwat dan marah

Berbagai penyakit jiwa muncul dari kekuatan syahwat dan marah. Dari kekuatan syahwat muncul penyakit cinta dunia, cinta harta dan kekayaan, rakus, tamak, kikir, menumpuk-numpuk harta, mengambil penghasilan yang tidak sah, khianat, bejat dan tidak bermoral, suka persoalan cabul dan hal-hal haram.[83] Sedangkan yang muncul dari kekuatan marah adalah rasa takut, depresi, dan perasaan cemas yang akut, hilangnya kepercayaan diri, kurang bermartabat, ceroboh, berpikir negatif kepada Sang Pencipta dan ciptaan-Nya, amarah, kekerasan, akhlak buruk, dendam, menyombongkan dan membanggakan diri, arogansi, memberontak, buta terhadap kesalahan sendiri, fanatik, menyembunyikan kebenaran, kejam dan tidak berperasaan.[84]

Menurut Hamka, agar kekuatan syahwat dan kekuatan marah tidak melahirkan penyakit, maka harus diawasi oleh akal, sehingga kedua kekuatan itu hanya akan berfungsi untuk mempertahankan diri.[85] Akal, kata Hamka, tidak boleh menutup kekuatan keduanya, sebab jika kedua potensi itu dimatikan, maka tidak ada lagi dinamika dalam hidup. Hal ini akan mengancam eksistensi dan keselamatan manusia. Tentang ini Hamka berkomentar, “Orang berakal tidak akan membangkit angan-angan nafsu, tidak mencari dan mengorek yang akan menimbulkan marah. Melainkan dibiarkannya syahwat dan nafsunya tinggal tenteram. Digunakannya syahwat dan marah itu bukan untuk menyerang, tetapi untuk mempertahankan diri.”[86]

4. Tadbir (Bekerja dengan terencana dan teratur)

Tadbir  menurut Hamka, tidak hanya mengenai kehidupan spiritual sebagaimana dalam dunia sufistik, tetapi juga dalam kehidupan sosial. Hal ini konsisten dengan pandangannya bahwa agar seseorang sampai kepada Tuhan harus memadukan fungsi dan tugas ke-khalifah-an dan ke-‘abdun-an. Hamka menegaskan demikian bahwa jika seseorang berakal budi, maka ia akan dapat membuat perencanaan dengan baik, sehingga peluang untuk gagal dan berbagai akibat yang ditimbulkannya dapat diminimalisir. Menurut Hamka, hal yang demikianlah yang dimaksudkan Nabi dalam hadisnya, “Seorang mukmin tidak akan jatuh dua kali ke dalam lobang yang sama.”[87]

Meskipun perencanaan sangat baik, tidak mungkin selamanya perjalanan manusia mulus. Jika terjadi penyimpangan dari yang seharusnya, maka kata Hamka, segeralah menginstropeksi diri, dan hukum diri atas kesalahan itu.[88]

4.      Introspeksi diri.

Pencapaian keutamaan pribadi tentu tidak mudah. Orang harus mengetahui dan memahami aib dan kekurangannya. Kesadaran ini begitu penting. Karena seseorang akan menerima kelemahan dan kekurangannya secara terbuka. Keterbukaan terhadap diri sendiri akan mendorong untuk memperbaiki diri dan mau belajar terhadap orang lain. Sikap tertutup terhadap aib sendiri justeru berpotensi melahirkan berbagai penyakit mental, seperti gelisah atau stress, karena takut diketahui orang lain.

Menurut Hamka, dengan mengutip Jalinus at-Thabib, upaya praktis untuk menyadari dan menerima segala kekurangan diri secara terbuka adalah meminta nasehat kepada teman yang tahu kekurangan kita dan ikhlas mendengarkan setiap nasehatnya. Di samping itu menampung berbagai kritikan yang ditujukan kepada diri kita, meskipun berasal dari orang yang memusuhi kita.[89]

E. Memperkokoh Tanggung Jawab Sosial dan Kemasyarakatan

Dalam banyak tulisannya, Hamka menegaskan bahwa untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat, seorang muslim tidak mungkin melepaskan diri dari rasa tanggung jawab sosial dan kemasyarakatan, bahkan tanggung jawab sosial tersebut merupakan tuntutan keyakinan dan keimanan bagi seorang muslim.[90]

Dalam pandangan Hamka, mencapai kebahagiaan juga tergantung kepada kebahagiaan masyarakat. Seseorang tidak mungkin memperoleh kebahagiaan jika ia berada di tengah-tengah masyarakat yang bobrok (jahili), bahkan ia juga meyakini bahwa tingkat tanggung jawab sosial menjadi salah satu pembeda mukmin sejati dengan mukmin yang rendah kualitas keimanannya.[91]

Dalam konteks kewajiban sosial seorang muslim, Hamka mengartikan kewajiban sebagai pekerjaan atau perbuatan yang dinilai oleh hati apakah mesti dikerjakan atau ditinggalkan. Dengan demikian, kewajiban sosial adalah konsistensi manusia memandang baik sesuatu yang baik atau benar dan memandang buruk atau salah sesuatu yang buruk atau salah. Konsistensi sikap seperti ini menyebabkan ia mau berkorban untuk memperjuangkan atau merebut sesuatu yang baik dan benar meskipun membutuhkan pengorbanan yang besar. Pastinya, yang menyuarakan kewajiban yang demikian adalah hati manusia.[92]

Menurut Hamka, dalam mengaktualisasikan diri dalam kehidupan sosial, manusia memiliki dua karakter, yakni sebagai makhluk individual dan makhluk sosial. Kenyataan ini adalah fitrah manusia yang tidak mungkin diingkari. Manusia tidak mungkin menjadi individualis sejati, juga tidak mungkin pula hanya menjadi makhluk sosial seutuhnya. Tetapi, agar hidup manusia berproses menuju kesempurnaan, maka ia harus menjadikan cita-cita universal masyarakat manusia sebagai bagian terpadu dengan cita-cita dan tujuan hidupnya. Dengan demikian, manusia harus memandang dirinya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakatnya. Hamka berkomentar demikian:

Tiap-tiap kita adalah mempunyai dua segi hidup. Segi pertama ialah segi terhadap diri sendiri, persoon, yang bekerja untuk kepentingan dirinya dan menanggung jawab kepada dirinya pula, tidak ada hubungannya dengan orang lain. Segi yang kedua ialah yang berhubungan dengan pergaulan bersama. Segala pekerjaan yang dikerjakannya hendaklah menjaga akan kepentingan masyarakat, menjaga sopan santun yang dikehendaki oleh pergaulan hidup bersama itu. Sebab dia adalah salah satu di antara bina-bina  untuk mendirikan masyarakat tadi. Kalau sekiranya dia memisahkan diri dari pada umum, fanalah dia. Hilang tak ada harganya. Diri itu terikat oleh undang-undang, oleh adat-istiadat yang tidak boleh dilanggar, dan dia berhutang kepada masyarakat ramai yang wajib dibayarnya supaya cukup kesempurnaan hidupnya.[93]

Masyarakat, kata Hamka, ibarat sebuah tubuh. Tiap individu adalah elemen yang menyatu secara organis sehingga terbentuk sebuah masyarakat atau umat. Tiap-tiap diri dalam masyarakat adalah suatu kualitas yang belum sempurna, karena kesempurnannya bergantung kepada konstruk masyarakat di mana ia hidup. Hal demikian, menurut Hamka, karena setiap diri berkepentingan terhadap interaksi  sosial dan kehidupan bersama, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani.[94]

Penjelasan di atas menandaskan bahwa tercapainya kebahagiaan personal (diri) bergantung kepada kebahagiaan kolektif (bersama). Untuk mencapai kebahagiaan kolektif, setiap orang dituntut untuk mengartikulasikan peran sosialnya sebagai bentuk aktualisasi dirinya dalam pergaulan bersama untuk menciptakan kebaikan masyarakat, sehingga tercipta masyarakat dengan fundamen akhlak yang kuat. Suatu masyarakat yang kokoh ditandai dengan sikap individu masyarakat yang  yang lurus, jujur, tulus, ikhlas, dapat dipercaya, teguh hati, kokoh janji, hormat dan khidmat. Tetapi untuk mewujudkan masyarakat seperti ini harus dilandaskan kepada suatu hukum atau perundang-undangan yang dipatuhi bersama. Jadi suatu masyarakat yang sadar hukum, hingga hukum menjadi tradisi masyarakat.[95]

IV.       Menemukan Kebahagiaan Sejati

Pandangan Hamka tentang kebahagiaan sejati didasarkan kepada al-Qur’an dan Sunnah yang kerangka berfikirnya dipengaruhi oleh pandangan pemikir terdahulu dari kalangan filosof dan sufi seperti al-Farabi, Ibnu Sina, al-Gazali, al-Junaid, Raghib al-Asfahani, Ibnu Taymiyah, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan lain-lain. Ia membaca dengan baik  teori-teori di kalangan filosof dan sufi dalam menemukan kebahagiaan sejati, kemudian ia membuat formulasi pandangan berbeda. Perbedaan yang paling menonjol adalah penekanan Hamka yang seimbang terhadap pemungsian akal dan hati dalam menemukan kebahagiaan sejati. Karenanya, disamping sumber-sumber internal kebahagiaan, ia juga memandang sama perlunya sumber-sumber eksternal kebahagiaan.

Penekanannya kepada pemungsian akal secara konsisten nampak mulai saat pencariannya sampai ia meninggal dunia, demikian pula konsistensinya pada pencerahan hati (dzauq)

Hamka sependapat dengan pandangan pemikir muslim terdahulu bahwa akal bukanlah suatu sifat yang berdiri sendiri, tetapi konpergensi dari tiga sifat yaitu pikiran, kemauan dan perasaan (al-fikr, al-iradah, al-wijdan).[96] Menurur Hamka, sebagaimana dinukil dari Hadis, ada tiga syarat bagi kesempurnaan akal, yaitu pertama, baik ma’rifah-nya kepada Allah. Kedua,  baik ketaatannya kepada Allah. Ketiga, baik kesabarannya atas ketentuan Allah. Secara inplisit, hadis dimaksud seakan memberi penegasan bahwa dengan akallah manusia mengetahui Allah, mengimani dan meyakini-Nya, dan mengendalikan atau menguasai diri.[97] Lebih tegas lagi, Hamka mengatakan bahwa fungsi akal adalah membedakan yang baik dan yang buruk, merencanakan dan memperkirakan setiap tindakan dan perbuatan, dan menyelidiki hakikat dan kejadian segala sesuatu.

Akal menjadi penentu eksistensi manusia, dan akal selamanya berkonfrontasi dengan hawa nafsu. Akal membimbing manusia kepada keutamaan, sedangkan hawa nafsu menggiring manusia kepada kesesatan dan keburukan. Hamka berkata:

Bila terjadi peperangan di antara akal dan hawa nafsu, akal mempertahankan barang yang pahit tetapi manis akibatnya; nafsu mempertahankan barang yang manis tetapi pahit bekasnya. Ketika itu keduanya sama mencari alasan dan sandaran. Akal mencari pembelaan dari Nur Allah, dan nafsu mencari perlindungan dari was-was setan. Kalau menang bala tentara hawa, terhapuslah cahaya kebenaran, padamlah suluh yang baik, terang matanya menghadapi laba yang sebentar, buta dari keuntungan yang sebenarnya. Tertipu oleh kelezatan yang cepat datang dan cepat hilang, tidak insaf kepada kekayaan, dan kalahlah petunjuk Ilahi. Kalau yang mempunyai akal itu lekas segera mempertahankan petunjuk Tuhan, berpedoman Nur Tuhan-nya, niscaya jatuh tersungkurlah balatentara setan dan terpasunglah hawa nafsu.

Fikiran sebagai salah satu sifat akal, berfungsi bagai nakhoda dalam sebuah kapal. Pikiranlah sebagai kemudi hidup. Pikiran yang sehat menurut Hamka berada di antara akal dan hawa nafsu (syahwat). Dengan posisi seperti itu, pikiran tersebut akan dinamis. Tetapi jika ia hanya dikendalikan oleh akal tanpa dipengaruhi oleh hawa nafsu sedikitpun, maka ia akan bagaikan malaikat yang tidak memperdulikan tugas kekhalifahannya. Jika akal condong ke bawah, mengikuti hawa nafsu, maka ia akan terhina seperti setan. Oleh karena itu untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan, maka pikiran harus condong ke atas (akal), tanpa lepas sama sekali dari hawa nafsu. Jadi hubungan dengan nafsu tetap ada, tetapi dikendalikan oleh akal.[98]

Menurut Hamka, tingkatan kebahagiaan yang dicapai oleh seseorang tergantung kepada tingkat kesempurnaan akal. Jika akal bertambah sempurna, indah dan murni, maka bertambah tinggi pula tingkat kebahagiaan yang diperoleh. Akal yang tinggi akan menggiring kehendak mencapai kebahagiaan yang tinggi pula, sebaliknya akal yang rendah hanya mampu mempersepsi tingkat kebahagiaan yang rendah, sekaligus mendorong kehendak untuk mencapai persepsi kebahagiaan yang rendah itu. Hamka berkata, “Bertambah luas akal, bertambah luaslah hidup, bertambah datanglah bahagia. Bertambah sempit akal, bertambah sempit pula hidup, bertambah datanglah celaka.”[99]

Oleh karena itu, sejak dini akal harus dibimbing dan di asah. Akal tidak boleh dibiarkan statis. Karena itu harus senantiasa belajar untuk menambah ilmu dan memperhalus timbangan akal. Jika timbangan akal bertambah tinggi, maka bertambah tinggi pula martabat seseorang dalam pergaulan hidup.[100]

Orang yang akalnya semakin halus, maka ia senantiasa terhindar dari pikiran sempit dan picik, sebaliknya ia akan berpandangan luas, pandai menginstrospeksi (meng-ihtisab) diri, mengekang dan mengendalikan hawa nafsu, senantiasa mencontoh budi pekerti yang baik, sabar dan tawakkal, serta bersahabat dengan orang-orang yang berakal.[101] Orang yang berakal dengan cirri-ciri sebagai disebut terakhir, menurut Hamka, selalu mengawasi dirinya dalam empat hal:

  1. Saat untuk menyembahkan hajatnya kepada Tuhannya.
  2. Saat untuk menilik dirinya sendiri.
  3. Saat untuk membukakan rahasia diri kepada sahabatnya yang setia, menyatakan aib-aib dan celanya supaya dapat dinasehati dan ditunjukkan oleh teman setia itu secara terus terang.
  4. Saat dia bersunyi-sunyi diri, duduk bersoal-jawab dengan dirinya, menanyakan mana yang halal dan mana yang indah, mana yang jahat dan mana yang baik.[102]

Menurut Hamka, saat yang terpenting adalah yang disebut terakhir, yakni saat merenung diri dalam kesendirian dan kesunyian,  mengistirahatkan jiwa dan hati dari persoalan keduniaan dan memusatkan diri kepada mujahadah  spiritual. Pada tingkat terakhir ini, ia hanya merindukan tiga perkara dalam hidupnya. Pertama, menyediakan bekal untuk hari kemudian. Kedua, mencari kelezatan jiwa. Ketiga, menyelidiki arti hidup.[103]

Pada tahap selanjutnya,  sebagai dampak membersihkan, memurnikan, dan mempertajam akal, manusia akan terantar kepada ilmu hakekat. Sekaligus pula menjauhkannya dari kebatilan, membuatnya tunduk kepada hukum, menerima perintah dan menjauhi larangan, mengikuti yang baik dan menjauhi yang buruk.[104] Akal yang demikian akan mengendalikan kekuatan marah dan syahwat untuk mencapai kesempurnaan manusia (kesempurnaan akal).[105]  Tujuan akhir, tujuan sejati, atau tujuan yang paling mulia dari akal adalah ma’rifatullāh; mengenal Allah, mengerjakan perintah-Nya dengan penuh taat, menahan diri dari memaksiati-Nya.[106]

Perlu dikemukakan di sini, meskipun Hamka mengambil pendapat Al-Ghazali tentang puncak kebahagiaan (ma’rifatullāh), namun ia berbeda dengan Al-Ghazali tentang metode mencapai ma’rifatullāh itu. Jika Al-Ghazali menekankan metodenya pada mujāhadah spiritual (riyādhah qalbiyah) dengan cara ‘uzlah (pengasingan diri),[107] maka Hamka menekankan pada penyempurnaan dan pemurnian akal.

Pandangan demikian, bukan berarti Hamka mengenyampingkan penyucian hati. Sebagai diuraikan sebelumnya, Hamka memandang akal sebagai termaktub dalam al-Qur`an. Oleh karena itu, pemurnian dan penyempurnaan akal menurutnya, sesungguhnya terlingkup di dalamnya penyucian hati. Akal tidak akan dapat menuju kesempurnaan (tujuan sejati akal) jika tidak mampu mengendalikan dirinya dari pengaruh hawa nafsu.[108]

Oleh karena itu, Hamka sesungguhnya telah mereformulasi konsep ma’rifatullāh sehingga berbeda dengan yang dipahami di kalangan sufi, khususnya Al-Ghazali dan Zu an-Nun al-Mishri.[109]

V.    Simpulan

Hamka mendasarkan teori pencapaian kebahagiaan kepada pemungsian, pemurnian, pengasahan dan penyempurnaan akal. Ia memandang akal sebagai alat, media dan sarana utama menemukan kebahagiaan. Meskipun ia tidak benar-benar konsisten, namun dapat disimpulkan bahwa ia berbeda dengan pandangan yang berlaku umum di kalangan filosof dan sufi tentang eksistensi akal.

Akal menurut Hamka, sesuai dengan fitrahnya, senantiasa condong ke atas (kemuliaan, kebenaran, kebaikan dan kesucian), sedangkan hawa nafsu condong ke bawah (kehinaan, kesalahan, keburukan dan dosa). Dengan demikian, akal membawa kepada kebahagiaan, sementara hawa nafsu membawa kepada kesengsaraan atau penderitaan.

Kebahagiaan tertinggi yang dapat dicapai akal adalah ma’rifatullah, yakni mengenal Allah dengan kualitas haqq al-yaqin.  Inilah puncak kebahagiaan, kenikmatan dan kelezatan, yang diistilahkan Hamka sebagai kebahagiaan sejati atau kebahagiaan utama. Karena kebahagiaan sejati itu adalah mengenal Allah, maka jalan utama menuju pengenalan terhadap Allah (ma’rifatullah) adalah dengan memberdayakan akal.

Mencapai kebahagiaan dengan akal adalah sangat sulit dan rumit, yang hanya dapat dilalui oleh orang-orang tertentu. Namun, menurut Hamka, ada jalan yang mudah untuk mencapai kebahagiaan, yaitu jalan agama. Agama telah menjanjikan kebahagiaan kepada siapapun, meskipun tingkat kebahagiaan yang diperoleh tentu akan berbeda masing-masing orang, karena bergantung kepada kadar atau derajat akal manusia dalam mengapresiasi dan mempraktikkan agama.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Bukhari, Shahīh al-Bukhāri, Juz I. Beirut: Dar al-Fikr, 1401/1981 M.

Al-Farabi, At-Tanbīh ‘alā Hushūl as-Sa’ādah dalam Rasā`il al-Farabiy.Haidarabad ad-Dakan: Majlis Da’īrat al-Ma’ārif al-Utsmaniyah, 1316/1926.

Al-Ghazali, Ihyā’ Ulūm ad-Dīn, Jilid VII, ter. Ismail Yakub. Jakarta Selatan: C.V. Faizan, 1981.

An-Naraqi, Muhammad Mahdi Ibn Abi Dzar. Jami’ as-Sa’adah, terj. Ilham Mashuri dan Sinta Nuzuliana. Jakarta: Lentera, 2003.

Azra, Azyumardi dan Saiful Umam (eds.), Tokoh dan Pemimpin Agama: Biografi Sosial dan Intelektual. Jakarta: Litbang Depag RI dan PPIM, 1998.

Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, Jilid 2. Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 1999.

Hamka, Kenang-kenangan Hidup, Jilid 1. Jakarta: Bulan Bintang, 1979.

———, Kenang-kenangan Hidup, Jilid 3. Jakarta: Bulan Bintang, 1979.

———, Lembaga Hidup, Cet. 8. Jakarta: PT Panjimas, 1984.

———, Rusydi. Pribadi dan Martabat Buya Prof.Dr. Hamka. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983.

———, Tafsir al-Azhar, Juz III. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1986.

———, Tasauf Modern, Cet. Ke XII. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1988.

———, Tasauf Perkembangan dan Pemurniannya, Cet. Ke XIX. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1994.

———, Falsafah Hidup, Cet.XIII. Jakarta: Pustaka Panjimas, 2002.

Hamzah, Yunus Amir, Hamka sebagai Pengarang Roman, Jakarta: Puspita Sari Indah, 1993.

Hatta, Mohammad, Alam Pikiran Yunani . Jakarta: Tintamas, 1980.

Lavine, T.Z. Petualangan Filsafat: Dari Socrates ke Sartre, ter. Andi Iswanto dan Deddy Andrian Utama. Yogyakarta: Penerbit Jendela, 2002.

Madjid, Nurcholish, Dialog Keterbukaan: Artikulasi Nilai Islam dalam Wacana Sosial Politik Kontemporer. Jakarta: Paramadina, 1998.

Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam. New Delhi: Kitab Bhavan, 1981.

Munawwir, A.W.  Kamus  Al-Munawwir . Surabaya: Pustaka Progressif, 1997.

Muslim, Imam Abi Husein, Sahīh Muslim, Juz I. Beirut: Dar al-Fikr, 1414/1993.

Natsir, Mohammad, “Dua Kali Kami Berjumpa,” dalam Panitia Peringatan 70 Tahun Buya Prof. Dr. Hamka, Kenang-kenangan 70 Tahun Buya Hamka. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983.

Rahardjo, M. Dawam. Intelektual, Inteligensia dan Prilaku Politik Bangsa. Bandung: Mizan, 1996.

Steenbrink, Karel A.  “Menangkap Kembali Masa Lampau: Kajian-kajian Sejarah oleh Dosen IAIN,” dalam Mark R. Woodward (ed.), Jalan Baru Islam: Memetakan Paradigma Mutakhir Islam Indonesia. Bandung: Mizan, 1998.


* Penulis adalah dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Padangsidimpuan. Tinggal di Perumahan Sidimpuan Indah Lestari Blok A-42 Padangsidimpuan, Sumatera Utara. Email: nasution.anhar@yahoo.co.id

[1]Al-Farabi, At-Tanbīh ‘alā Hushūl as-Sa’ādah dalam Rasā`il al-Farabiy (Haidarabad ad-Dakan: Majlis Da’īrat al-Ma’ārif al-Utsmaniyah, 1316/1926), 2-3.

[2]Al-Ghazali, Ihyā’ Ulūm ad-Dīn, Jilid VII, ter. Ismail Yakub (Jakarta Selatan: C.V. Faizan, 1981), 444.

[3]Hamka, Tasauf Modern, Cet. Ke XII (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1988), 15.

[4]Ibid., 19.

[5]Ibid., 18.

[6]Menurut kepercayaan Pythagoras, manusia berasal dari Tuhan. Jiwa atau ruh manusia adalah penjelmaan dari Tuhan, yang jatuh ke dunia karena berdosa. Ruh tersebut akan kembali ke langit, ke lingkungan Tuhan, jika dosanya telah suci. Mohammad Hatta, Alam Pikiran Yunani (Jakarta: Tintamas, 1980), 29-30.

[7]Orang yang berbudi akan merasakan Tuhan sebagai suara bisikan dari dalam yang membimbing moral. Hal ini disebutnya daimonian. Pada dasarnya sura daimonian itu dapat didengarkan oleh setiap orang dari dalam jiwanya kalau ia mau. Cara inilah yang secara kongkret mengarahkannya kepada kebahagiaan. Hatta, 83-84.

[8]T.Z. Lavine, Petualangan Filsafat: Dari Socrates ke Sartre, ter. Andi Iswanto dan Deddy Andrian Utama (Yogyakarta: Penerbit Jendela, 2002), 39.

[9]Hatta,  Alam Pikiran, 106-107.

[10]Ibid.,  173-175.

[11]Al-Farabi, At-Tanbīh, 2-3.

[12]Al-Gazali, Ihyā, Jilid VII, 444.

[13]Muhammad Mahdi Ibn Abi Dzar  an-Naraqi, Jami’ as-Sa’adah, terj. Ilham Mashuri dan Sinta Nuzuliana (Jakarta: Lentera, 2003), 23.

[14]Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, (New Delhi: Kitab Bhavan, 1981), 11-12.

[15]Di antaranya adalah Abdul Chair, “Pemikiran Hamka dalam Bidang Aqidah, Tasauf dan Sosial Politik”, Tesis pada IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1995;  Muhammad Damani, “Hamka tentang Tasauf: Telaah terhadap Pemikiran Hamka Periode 1925-1942; Nur Hamim, “Kesehatan Mental Islami: Telaah atas Pemikiran Hamka,” Tesis pada IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 1997; Samsul Niza, Hamka (1908-1981): Kajian Sosial-Intelektual  dan Pemikirannya tentang Pendidikan Islam,” Disertasi pada Program Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1421 H/ 2001 M.

[16]Hamka, Kenang-kenangan Hidup, Jilid 1, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), 9. Lihat Juga Hamka, Tasauf Modern, xv.

[17]Hamka, Kenang-Kenangan Hidup, Jilid 1,  71; Kenang-kenangan Hidup, Jilid 3, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), 257.

[18]Hamka, Kenang-kenangan, Jilid 1, 63-67.

[19]Hamka, Tasauf Modern,  xv.

[20]Rusydi Hamka, Pribadi dan Martabat Buya Prof.Dr. Hamka, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983),  64.

[21]Hamka, Kenang-kenangan , Jilid I, 61-61.

[22]Pada mulanya, kunjungannya ke Jawa hendak menemui kakak ipranya, A.R. Sutan Mansur (suami kakaknya Fatimah) yang tinggal di Pekalongan. Ternyata, kedatangannya tidak sia-sia. Di rumah kakak iparnya, kegelisahan intelektual yang dirasakannya mulai mendapat respon dari pengajian-pengajian yang diikutinya di rumah tersebut yang disampaikan oleh A.R. Sutan Mansur sendiri, yang bagi Hamka, di samping sebagai kakak, juga seorang guru yang cukup berjasa bagi perkembangan intelektualnya. Lihat Hamka, Falsafah Hidup, Cet. XIII (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2002),  1-6.

[23]Hamka, Kenang-kenangan, Jilid I, 96-98.

[24]Ibid.,  97-98.

[25]Hamka, Falsafah, 1-6.

[26]Lihat M. Dawam Rahardjo, Intelektual, Inteligensia dan Prilaku Politik Bangsa, (Bandung: Mizan, 1996), 202.

[27]Lihat Karel A. Steenbrink, “Menangkap Kembali Masa Lampau: Kajian-kajian Sejarah oleh Dosen IAIN,” dalam Mark R. Woodward (ed.), Jalan Baru Islam: Memetakan Paradigma Mutakhir Islam Indonesia, (Bandung: Mizan, 1998), 153.

[28]Hamka, Kenang-kenangan, Jilid I, 23.

[29]Semasa hidupnya, Hamka dikenal sebagai intelektual yang enerjik. Menulis banyak buku. Menurut Nurcholish Madjid, di Indonesia jarang orang seperti Hamka, yang produktif dalam melahirkan karya-karya tulis. Lihat Nurcholish Madjid, Dialog Keterbukaan: Artikulasi Nilai Islam dalam Wacana Sosial Politik Kontemporer  (Jakarta: Paramadina, 1998),  198.

[30]Azyumardi Azra dan Saiful Umam (eds.), Tokoh dan Pemimpin Agama: Biografi Sosial dan Intelektual (Jakarta: Litbang Depag RI dan PPIM, 1998, 11.

[31]Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, Jilid 2 (Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve, 1999), 76.

[32]Mohammad Natsir, “Dua Kali Kami Berjumpa,” dalam Panitia Peringatan 70 Tahun Buya Prof. Dr. Hamka, Kenang-kenangan 70 Tahun Buya Hamka (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983),  7.

[33]Rusydi Hamka, Pribadi dan Martabat Buya Prof. Dr. Hamka (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), 6.

[34]Ibid., 7.

[35]Ismael Hassan, “Hamka Titik Sentral Bahagia,”  dalam Nasir Tamara (eds.), Hamka di Mata,, 247.

[36]Yunus Amir Hamzah, Hamka sebagai Pengarang Roman, (Jakarta: Puspita Sari Indah, 1993), 7.

[37]Hamka, Tasauf Modern,  36.

[38]Ibid.,  36-37.

[39]Ibid.,  37.

[40]Ibid.

[41]Ibid.,  37-38.

[42]Ibid.,  38.

[43]Ibid.,  39.

[44]Ibid.

[45]Ibid.

[46]Lihat Al-Bukhari, Sahīh al-Bukhāri, Juz I, Kitab Iman, Bab 2 (Beirut: Dar al-Fikr, 1401/1981 M); Imam Abi Husein Muslim, Sahīh Muslim, Juz I, Kitab Iman, Bab 57, 58 (Beirut: Dar al-Fikr, 1414/1993), dan lain-lain.

[47]Lihat QS Al-Hujurāt/49: 15; Al-Anfāl/8: 2-4; An-Nūr/24: 62.

[48]Lihat misalnya, Muslim, Sahīh Muslim, Juz I, Kitab Īman, Bab 6.

[49]Lihat misalnya Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Juz I, Kitab Iman, Bab 37; Muslim, Sahih Muslim, Juz I, Kitab Iman, Bab 57.

[50]Hamka, Tasauf Modern,  41-42.

[51]Ibid.,  47.

[52]Ibid., 48.

[53]Ibid.,  49.

[54]Ibid,  53.

[55]Ibid.,  69.

[56]QS al-Syura/42: 13.

[57]QS Ali Imran /3: 64.

[58]Hamka, Tasauf Modern,  70.

[59]Ibid.,  89.

[60]Hamka, Falsafah Hidup, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2002), Cet. XIII, hlm. 64-65.

[61]A.W. Munawir, Kamus  Al-Munawwir  (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997),  1526.

[62]Lihat QS Al-Furqan/25: 43 dan Al-Jatsiyah (45): 23.

[63]Munawwir, Kamus, 1526.

[64]Hamka, Tasauf Modern, 94.

[65]Tentang taufik dan hidayah Ilahi ini, Hamka menjelaskan bahwa meskipun akal menjadi kendali dalam mencapai keutamaan jiwa, namun manusia bisa juga ragu atau sesat ketika dihadapkan kepada pilihan-pilihan yang sulit dan rumit. Oleh karena itu, jika situasinya demikian, hendaklah lekas lari kepada Allah untuk memohon pertimbangan-Nya, kemudian perkuat semangat berjuang dengan membaca Kitab-Nya. Lihat Hamka, Tasauf Modern, 93.

[66]Ibid., 90.

[67]Hamka, Tasauf Modern, 95.

[68]Ibid.

[69]Hamka, Tasauf Modern, 98-99. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Juz I, Kitab Iman, Bab 3.

[70]Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari. Juz I, Kitab Iman, Bab 42; Muslim, Shahih Muslim.Juz I, Kitab Iman, Bab 95.

[71]Hamka, Tasauf Modern, 100.

[72]Ibid., 100.

[73]Ibid., 102.

[74]QS at-Taubah/9:  24.

[75]Ibid., 103-104.

[76]Ibid., 104-105.

[77]Ibid., 106.

[78]Ibid.

[79]Ibid., 106-107.

[80]Ibid., 107.

[81]Ibid.

[82]Ibid., 108.

[83]An-Naraqi, Jami’, 104-124.

[84]Ibid.,  68-103.

[85]Hamka, Tasauf Modern, 108.

[86]Ibid.

[87]Ibid., 109.

[88]Ibid., 110.

[89]Ibid.

[90]Lihat misalnya Hamka, Tasauf Modern, 24-25; Hamka, Lembaga Hidup, Cet. 8 (Jakarta: PT Panjimas, 1984), 127; Hamka, Tafsir al-Azhar, Juz III (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1986), 40-41.

[91]Hamka, Tasauf Modern, 24-25.

[92]Hamka, Lembaga Hidup, 5.

[93]Ibid., 9.

[94]Ibid., 10.

[95]Ibid., 13.

[96]Hamka, Falsafah, 31.

[97] Hamka, Tasauf Modern, 15.

[98]Ibid., 93.

[99]Ibid., 16.

[100]Hamka, Falsafah, 35-37.

[101]Ibid., 43-44.

[102]Ibid., 45.

[103]Ibid.

[104]Ibid., 59.

[105]Ibid.

[106]Ibid., 56.

[107]Al-Ghazali, Ihya`, Juz VII, 464-469.

[108]Hamka, Falsafah, 64-68; Hamka, Tasauf Modern, 92-95.

[109]Hamka, Tasauf Perkembangan dan Pemurniannya, Cet. Ke XIX (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1994),  91 dan 93.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s