SEYYED HOSSEIN NASR: FILSAFAT PERENNIAL

Oleh: Anhar

 

A.     Pendahuluan

Seyyed Hossein Nasr (selanjutnya disebut Nasr) adalah salah satu seorang di antara sedikit emikir muslim abat ke-20 yang menaruh perhatian terhadap perlunya kembali menghidupkan nilai-nilai tradisional (tasauf) sebagai tawaranalternatif penyembuha krisi manusia modern.

Di dunia Islam, pada umumnya perhatian paling banyak ditujukan terhadapusaha-usaha kebangkitan di bidang perasaban. Perhatian ini muncul didasari oleh pandangan bahwa umat Islam telah jaun trtinggal di bidang tersebut dibandingkan dengan Barat. Tentetan dari pandangan ini adaah munculnya anggapan dikalangan banyak muslim bahwa nilai-nilai tradisional(tasauf) adalah penyebab hilagnya dinamika Isam, bahkan juga dipandang penyebabnya kuatnya dominasi Barat atas dunia Islam memiliki akar dalam sufisme.

Nasr melihat bahwa pandangan ini tidak dapat dibenarkna, karea penolakan terhadap sufisme dan mengkambinghitamkannya sebagai penyebab kemunduran, akibatnya Islam direduksi sampai tinggal hanya merupakan doktrin syari’at yang kaku, dan pada akhirnya syari’atitu sendiri tidak bedaya menghadapi ”serangan intelektual yang bertubi-tubi” Barat.

Makalah ini akan mencoba memaparkan filsafat peremial Nasr sebagai jawaban Nasr terhadap krisi manusia modern dan sekaligs bantahan terhadap anggapan bahwa sufisme penyebab mandegnya umat Islam.

B.     Seyyed Hossein Nasr dan Dunia Modern

Nasr dilahirkan di Teheran, Iran-negara yang melahirkan para sufi, filosof, ilmua dan penyair muslim terkemuka-lahir pada tanggal 1 April 1933 dari sebuah keluaraga yang taat beragama. Ayahnya bernama Seyyed Valiullah Nasr, seorang ulama terkenal, juga seorang dokter dan pendidik di Iran pada masa berkuasanya Dinasti Qojar. Kemudian pada masa pemerintahan dinasti Reza Shah, ia diangkat dengan jabatan menteri pendidikan (untuk masa sekarang).

Nasr dapat dikatakan sebagai sosok cendekiawan muslim yang agak tipikal, yang dibesarkan dalam dua tradisi; Islam ’tradisional’ dan Barat ’moden’. Seperti diakuinya ia hidup dalam tension (ketegangan) yang berkelanjutan. Ia berasal dari keluarga Ulama, dan dibesarkan dalam tradisi dan locus ulama Syiah tradisional yang mencakup nama-nama besar seperti Thabathaba’I, Hazbini,, dan Muthahhari. Selanjutnya ia memperoleh pendidikan Barat modern melalui dua lembaga pendidikan tiggi termasuk terkemuka di Amerika Sertikat; Massachussets Institut of Technology (MIT) dimana ia memperoleh gelar magister dalam bidang fisika,kemudian Ph.D., dalam bidang History of Science dan Philosophy diperolehnya dari Harvard University pada tahun 1958.

Selama belajar di negeri Paman Sam tersebut, ia banyak menaruh perhatian terhadap kehidupan dan budaya manusia di abad modern. Sebuah kebudayaan dan perasdaban mutakhir yang lahir sebagai akibat dari kemajuan yang pesat di bidang ilmu pengetahuan dan teknoloni. Secara material Barat telah sampai kepada the post industrial society, yaitu masyarakat yang secara material telah sampai pada araf makmur. Peralatan-peralatan hidup terkendali secara dan otomat. Alam telah dimanipulasi dan dieksploitasi secara bersama-sama. Jarak geografis semakin tak berarti sebagai akibat kemajuan di bidang teknologi komunikasi dan informasi. Dunia bagaikan sebuah gejala global village. Tidak ada peristiwa atau kejadian di planet bumi ini yang luput dari akses komunikasi dan informasi global. Manusia tinggal sebagai individu-individu yang berfungsi sebagai skrup-skrup kecil mesin peradaban global. Eksistensi  manusia tereduksi sedemikian rupa hingga hanya berarti secara kuantitatif. Manusia mengalami split personality (ketersaingan, pribadi pecah), semakin jauh dari kepastian moral dan etis tradisional. Kondisi seperti inilah yang disaksikan oleh Nasr selama menjalani pendidikan dan tinggal di Amerika, yakni sebuah krisis manusia dan kemanusiaan modern. Keperhatiannya terhadap krisis manusia modern ini telah melahirkan karya tidak kurang dari 15 judul buku dan ratusan artikel. Bahkan selama dasa warsa enampuluhan dan tujuh puluhan, ia aktif memberikan ceramah di empat benua-Amerika, Eropa, Asia dan Australia. Isi ceramahnya berkisar pada pemikiran Islam dan problem modern, pada bulan juni 1993, Nasr berkunjung dan memberikna ceramah di Indonesia.

C.     Latar Belakang Istilah Filsafat Perennial

Perennial menurut bahasa artinya abadi, kekal. Dalam kamus Webster’s, filsafat perennial (perennial philosophy) diartikan the philosophical tradition of the world’s great thinkers from Plato, Aristotle, and Aquinas to their modern sucesors dealing with problem of ultimate reality (as the nature of being) and sometimesemphasizing mysticism-opposed to skepticism; compare RATIONALISM.

Filsafat prennial sebagai suatu wacana intlektual secara populer muncul beberapa dekade terakhir ini. Namun istilah perenniali bukanlah istilah baru. Daam tradisi filsafat Barat, istilah tersebut diduga pertama kali digunakan oleh August Steuchus (1497-1548) sebagai judul bukunya De Perenni Philosophia, yang diterbitkan pada tahu 154. istilah itu kemudian dimasyhurkan oleh filsuf modern, Leibnitz (1646-1716),  dalam sepucuk suratnya yang ditulis 1715, yang menegaskan pembicaraan tentang pencarian kebenaran di kalangan filsuf kuno.

Menurut Huxlei, sebagai dikutip Ali Maksum bahwa filsafat perennial merupkan metafisika yang menganggap bahwa dalam dunia wujud, kehidupan dan jiwa, secara subtansial terdapat realitas ketuhanan, atau psikologi yang dapat melihat tujuan akhir manusia dalam mengetahui dasar semua wujud yang imanen maupun transenden adalah abadai dan universal (immemorial dan universal).

Menurut Nasr, di dalam Islampun jauh sebelum Steuchus di Barat, Ibnu Miskawaih telah membicarakan filsafat perennila secara panjang lebar dalam karyanya yang berjudul ­al-Hikmah al-Khalidah (kebijaksanaan yang abdai). Di dalam karya itu, Miskawaih telah banyak membicarakan pemikiran-pemikiran dan tulisan orang suci dan para filsof, termasuk di dalamnya mereka yang berasal dari Persia kuno, India dan Romawi. [1]

Di dalam buku-bukunya yang berkaitan dengan pembahasan ini, Nasr Ibnu Miskawaih filsafat perennial itu sebagai traditional Islam (Islam tradisional). Pemahaman terhadap istilah ini perlu lebih jauh sehingga istilah filsafat perennial Seyyed Hossein Nasr dapatdipahami lebih tepat.

Pertama-tama Nasr mengajak memahami perbedaanmendasar Islam tradisional dengan Islam modernis dan Islamfundamentalis. Untuk analisis ini Nasr menukilkan pandangannya dalam melihat sejarah umat. Dimulai penomena gelombang modernisme menyentih dar al-islam.

Pengaruh gagasan-gagasan dan gerakan-gerakan modernisme dapat dilihat di akhir abat ke-12 H/18 M dan awal abad ke -13 H/19 M dan seterusnya di lapangan-lapangan tertentu di beberapa wilayah dunia Islam semisal sains kemiliteran, astronomi dan kedokteran. Tidaklama sesudah itu terdapat kecenderungan pemikiran dan gerakan modernis pada lapangan pendidikan, pemikiran sosio-politik, hukum, dan belakangan di dalam filsafat dan seni, akhirnya terdapat pula pada lapangnaagama itu sendiri. Nasr menegaskan bahwa siapa saja yang memahami esensi modernisme yang di dasarkan pada, dan bersumber dari tendensi-tendensi sekular-humanistik renesans Eropa, tidak akan sulit baginya untuk melihat pertentangna-pertentangna antara eemen-elemen tradisional dan modern di dunia Islam.

Sebagai kelanjutan makin menyerukan gelombang modernisme ini pada dekade yang lalu muncu penomena yang menuntut pembedaan yang tegas antara Islam tradisional dengan bukan saja modernisme, tetapi juga dengan spektrum perasaan,prilaku dan pemikiran umat Islam yang oleh cendekiawan dan jurnalis Baratdikenal sebagaoi Islam ”fundamentalis” atau revivalis. Gerakan fundamentalisme dini ini yang sering diidentifikasi dengan Wahhabisme atau aliran Deoband dari India, lebih merupakan fragmen Islam tradisional-sebagai lawan aspek-aspek tradisi Islam dan lebih menonjolkanaspek esoterik tetapi tetap ortodoks, ketimbang suatu deviasi dari norma tradisional. Gerakan-gerakan seperti itu tetap dipahami dalam konteks dikotomi tradisionalisme-modernisme, meskipun atas pembaruan telah banyak melakukan banyak hal yang mereduksi kekuatan tradisional Islam. Demikian pula diakui bahwa signifikansi mereka selama ini meminta perhatian yang berlebihan di dalam kersarjanaan Barat sehingga mengurbankan kajian tentang pembangkit-pembangkit tradisi sejati Islam. Sebagai contoh, lebih banyak karya yang ditulis dalam bahasa-bahasa Eropa tentang pakar-paka seperti Jamaluddin al-Afgan, atau tentang Muhammad ’Abd al-Wahhab dari pada Syaikh al-’Alawi atau ’Abd al-Qodir al-Jaza’iri dalam melihat aspek-aspek religius dan esoteriknya, tidak hanya sekedar sebagai seorang politisi.

Kecenderungan modernisme sebagai yang terjadi belakangan ini yang menentang bukan saja tradisional, tetapi juga seluruh rangkaian gerakan yang menyerukan kebangkitan Islam menghadapi modernisme sekaligus menentang peradaban-peradaban Barat yang telah beratus tahun menjadi lahan pertumbuhan dan perkembangan modernisme. Menurut Nasr, pada momen sejarah yang demikianlah yang tepat dihadapkan analisis untuk melihat perbedaan-perbedaan gerakan yang disebut sebagai ’fundamentalisme dini’ atau sekedar ’fundamentalisme Islam’ dari Islam tradisional yang seirng dikelirukan.

Selanjutnya Nasr menjelaskan : [2]

Siapa pun yang telah membcaa karya-karya yang bercorak tradisional tntang Islam dan membandingkannya dengan perjuanganaliran-aliran ’fundamentalis’ tersebut segera dapat melihat perbedaan-perbedaan mendasar di antara mereka, tidak saja di dalam kandungan, tetapi juga di dalam iklim yang mereka nafaskan. Malahan, yang menjuluki sebagai ’fundamentalisme’ mencakup satu spektrum yang luas, yang bagian-bagiannya dekat sekali dengan intraperetasi tradisional tentang Islam. Tetapi tekanan utama macam gerakan politiko religius yang sekarang disebut ’fundamentalisme’ itu mempunyai perbedaan yang mendasar dengan Islam tradisional. Dengan demikian perbedaan yang tajam antara keduanya terjustifikasi, sekalipun terdapat wilayah-wilayah tertentu dimana beberapa jenis ’fundamentalis’dan dimensi-dimensi khusus Islam tradisional Islam bersesuaian.

Realitas sejarah yang dipaparkan di atas semakin memperjelas pemahaman, apa sesunguhnya yang dimaksud Islam tradisi itu, lebih jelasNasr menyebutkan bahwa sebagaimana yang digunakan oleh para ’tradisionalis’ terma tradisi menyiratkan sesuatu yang sakral. Tradisi dapat berarti ad-din dalam pengertian yang seluas-luasnya, yang mencakup semua aspek agama dan percabangannya; bisa pula disebut as-sunnah, yaitu aoa yang didasarkan pada model-model sakral-sudah menjadi tradisi sebagaimana kata ini umumnya dipahami;bisa juga diartikan al-islah, yaitu rantai yang mengaitkan setiap periode, atau tahap kehidupan dan pemikiran di dunia tradisional kepada Sumber, seperti tampak demikian gamblang di dala sufisme. Tradisi menyiarkan kebenaran yang kudus, yang langgeng, yang tetap kebijaksanaan yang abadi, serta penerapan bersinambung prinsip-prinsip yang langgeng terhadap berbagai situasi ruang dan waktu. Menurut Nasr, tradisi dapat diilustrasikan seperti sebuah pohon, akar-akarnya tertanam melalui wahyu di dalam sifat ilahi dan darinya tumbuh batang dan cabang-cabang sepanjang zaman. Di jantung pohon tradisi itu berdiam agama, dan saripatinya terdiri dari barakah yang karena bersumber dari wahyu, memungkinkan pohon tersebut terus hidup.

D.    Pemikiran Filsafat Perennial Seyyed Hossein Nasr

Sebagai dijelaskan di atas bahwa yag dimaksud oleh Nasr dengan filsafat perennial adalah kearifan tradisional dalam Islam. Pikiran-pikiran Nasr disekitar ini muncul sebagai reaksi terhadap apa yang dilihatnya sebagai krisi manusia modern. Peradaban modern –khususnya di Barat dan ditumbuhkembangkan di dunia Islam –menurut Nasr telah gagal mencapai tujuannya, yakni semakin terduksinya integritas kemanusiaan. Nasr menjelaskan :

Manusia modern telah lupa siapakah ia sesungguhnya. Karena manusia modern hidup di pinggir lingkaran eksistensinya; ia hanya mampu memperoleh pengetahuan tentang dunia yang secara kualitatif bersifat dangkal dan secara kuantitatif berubah-ubah. Dari pengetahuan yang hanya bersifat eksterbal ini, selanjutnya ia berupaya merekonstruksi citra diri. Dengan begitu manusia modenr semakin jauh dari pusat eksistensi, dan semakin terperosok dalam jeratan pinggir eksistensi.[3]

Dengan demikian, filsafat perennia Seyyed Hossein Nasr adalah respon yang dimunculkannya setelah melihat dengan seksama krisis manusia modern. Karenanya topik yang paling menonjol dari pemikiran filsafatnya adalah tentang pembebasan manusia modern dari perangkap dan keterpasungna budaya dan peradaban yang diciptikan manusia sendiri. Topik ini terangkum dalam apa yang disebutnya sebagao sufisme atau aliran tradisional.

Bagian ini akan membahas pembelaan dan pandangna Nasr terhadap sufisme, dan sufisme sebagai alternatif pembebasan manusia modern.di akhir, akan dicoba membahas kritik filsafat perennial Nasr dalam memahami manusia dan alam.

  1. Pembelaan Nasr terhadap Sufisme

Nasr berpandangan amat postif tentang peranan sufisme dalam sejarah Islam. Dicontohkannya, vitalitas keagamaan yang dimiliki pribadi ulama klasik yang refleksinya tampak pada karya-karya besar mereka merupkana pengejawantahan kedalaman penghayatan mereka terhadap nilai-nilai esoterik Islam. Bahkan dalam penyebaran agama Islam khususnya di India, Asia Tenggara dan Afrika selalu diawalai oleh keteladanan pribadi sufi, pemimpin tarekat, kemudian diikuti penataan syari’at. Oleh karena itu, menurut Nasr, sufisme tidak bisa dijadikan kambing hitam fatas segala penyakit yang ada dalam masyarakat Islam.

Kemunduran umat Islam kara Nasr, justru antara lain disebabkan penghancuran tarekat sufi oleh bentuk-bentuk baru rasional puritan sperti Wahabisme di Arabia dan Ahl al-Hadis di India. Akibatnya menurut Nasr, dengan menolak sufisme dan mengkambinghitamkannnya sebagai penyebab kemunduran umat, Islam direduksi sampai tinggal   doktrin fiqh yang kaku, yang pada gilirannya tidak berdaya menghadapi serangan bertubi-ubi intelektual Barat.

Syari’at, tanpa memperhatikan dimensi batinnya, maka ia akan kering dari kedalaman penghayatan rohaniah.spritual, yang pada akhirnya tinggal sebagai doktrin kaku, formalistik dan verbalistik. Jika demikian halnya menurut Nasr, manusia yang melaksanakan syari’at tersebut akan gagal mencapai kebenara. Oleh karena itu, kedua dimensi agama tersebut, yakniaspek syari’a (az-zahir, outward) dan sufisme (al-batin inward) haruslah mengintegral dalam pengalaman agama setiap muslim.

Bagi Nasr, sufisme ibarat jiwa yang menghidupkan tubuh. Dalam Islam, sufisme merupakan jantung (the heart) dari pewahyuan Islam. Sufisme telah menghidupkan semangatnya ke dalam struktur Islam, baik dalam manifestasi sosial dan intelektual. Tarekat-tarekat Sufi, sebagai institusi terorganisasi dalam matriks yang lebih besar masyarakat itu juga, ada kelompok sekunder yang berfasilitas dengan tarekat, seperti kelompok, bahwa berabgai isu dalam sejarah Islam tidak akan bisa dipecahkan tanpa memperhitungkan peran yag dimainkan sufisme.

  1. Sufisme sebagai alternatif pembebasan manusia modern.

Sebagai dijelaskan di atas bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengantarkan manusia modern kejurusan hakikatnya yang nista. Manusia modern terperangkap dan terpasang oleh tirani modernitas yang diciptakannya sendiri. Hal ini semakin memperjelas bahwa manusia modern gagal memahami hakikat dan tujuan hidupnya. Mereka mengalami kekeringan batin yang memerlukanupaya mendesak untuk penyembuhannya.

Pengamatan Nasr di Barat, bahwa masyarakat Barat telah berusaha mencari jawaban dengan cara kembali merangkul agama setelah lama dilupakan. Mereka telah mencarinya dalam agama Kristen dan Budha, ternyata tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Dalam situasi kebingungan seperti ini, sementara mereka selama berabad-abda memandang Islam dari sisi legalistik-formalistik, yang tidak memiliki dimensi esoterik, maka menurut Nasr, kini saatnya dimensi batiniah Islam harus diperkenalkan sebagai alternatif.

Dalam hal ini Nasr memandang bahwa sufisme dan tradisi mistikal sakral lainnya merupakan alternatif jawaban. Bagaimana agar sufisme dapat menjadi alternatif?

Nasr menegaskan, lebih awal perlu dipahami bahwa sufisme dalam Islam berbda dengan sufise pada agama lain. Oleh karena itu, sufisme dalam Isla harus dipahami melalui sumbernya yakni al-Qur’an dan Hadis/pola hidup Nabi Muhammad SAW, dan seseorang tidak bisa masuk ke jalur tarbiyah- metode pendakian spritual yang khusus bagi sufi-sebelum memasuki lingkaran syari’at.

Pada masyarakat modern-khususnya di Barat sufisme dapat mempengaruhi masyarakat pad tiga tataran: pertam: kemungkinan mempraktikan sufisme secara aktif. Cara ini kata Nasr hanya untuk segelintir orang saja, karena mensyaratkan penyerahan mutlak kepada disiplin tasauf. Pada tataran ini, orang harus mengikuti Hadis Nabi:”Matilah kamu sebelum engkau kamu Mati”. Maksudnya, orang harus ”mematikan” diri sebelum dilahirkan kembali secara spritual. Pada tahap ini orang harus membatasi kesenangan terhadao dunia materi dan kemudian mengarahkan hidupnya untuk bermeditasi, berdoa, mensucikan batin, mengkaji hati nurani, dan melakukan praktik-praktik ibadah lain seperti yang lazim dilakukan para sufi.

Kedua, sufisme mungkin sekali dapat mempengaruhi masyarakat modern dengan cara menyajikan Islam dalam bentuk yang lebih menarik, sehingga orang dapat menemukan praktik-praktik sufisme yang benar. Intinya adalah sajian Islam yang mengintegral antara aspek spritual Islam dengan sufisem sebagai esensinya. Dengan aktifitas duniawi yang profan. Dengan begitu, sufisme Islam membuka  peluang lebih besar bagi pencarian spritual barat yang tengah dilanda krisis makna hidup.

Ketiga, menfungsikan sufisme sebagai alat bantu untuk recollection (mengingatkan) atau reawakening (membangunkan) orang Barat dari tidurnya. Karena sufisme merupakan tradisi yang hidup dan kaya dengan doktrin-doktrin metafisis, kosmologis, sebuah psikologi dan psiko-terapi religius yang hampir tak pernah dipelajari di Barat, maka ia dapat menghidupkan kembali bergerak aspek kehidupan rohani Barat yang selama ini tercampakkan dan terlupakan.

Pemenuhan aspek batini/spritual ini- sebagai berulang kali dinyatakan Nasr- sangat mendesak bagi masyarakat modern. Memang secara fitrati tak mungkin diingkari, karena manusia memiliki dimensi rohani. Oleh karena itulah Nasr mengatakan bahwa pencarian spritual dan mistikal bersifat prennial, yakni suatu kewajaran yang natural dalam kehidupan individu dan kolektif manusia. Ketika masyarakat manusia berhenti mengakui kebutuhan yang natural (fitrati) ini, maka pada saat itu pula masyarakat tersebut ambruk ditimpa beban berat strukturnya.

  1. Kritik Filsafat Prennial Nasr terhadap ara pandang manusia modern dalam memahami manusia dan alam.

Nasr menumpahkan kritiknya yang tajam terhadap manusia modern terutama dalam dua buah karya: Man and Nature: The Spritual Crisis of Modern Man (1968) dalam Islam and the Ploght of  Modern Man (1975). Menurut Nasr, krisis peradaban modern bersumber dari penolakan (negation) terhadap hakikat ruh dan penyingkiran ma’nawiyah secara graudal dalam kehidupan manusia. Manusia modern mencoba hidup dengan roti semata; mereka bahkan berupaya ”membunuh” Tuhan dan menyatakan kebebasan dari kehidupan akhirat. Konsekwensinya, ujar Nasr, kekuatan dan daya manusia mengalami eksternelisasi, sehingga manusia kemudian ”menaklukkan” alam/dunia tanpa batas. Manusia menciptakan hubungan baru dengan alam dipandang tak lebih dari sekedar objek dan sumber daya yang perlu dikuras dan dieksploitasi semaksimal mungkin.

Persoalan fundamental tersebut muncul karena masyarakat Barat modern kehilangan visi keilahian. Penglihatan intelektualitasnya telah tumpul dalam melihat realitas hidup dan kehidupan. Istilah intellectus  menurut Nasr mempunyai konotasi kapasitas ”mata hati”, satu-satunya elemen esensi manusia yang sanggup menatap bayang-bayang Tuhan yang diisyaratkan oleh alam semesta. Nasr menjelaskan:

Manusia terdiri dari tiga unsur: jasmani, jiwa dan intellek, yang terakhir ini berada di atas dan di pusat eksistensi manusia. Esensi manusia, atau hal yang esensial dari sifat manusia, hanya dapat dipahami oleh intellek, yang menurut istilah tradisionalnya disebut ”mata hati” (’ain al-qalb). Begitu mata hati tertutup, dan kesanggupan intellek dalam perhatiannya yang sedia jala mengalami kemandekan, maka kita tidak mungkin mencaai pengetahuan yang esensial tentang hakikat manusia.[4]

Disebabkan intelektus di atas difungsional, maka sesungguhnya apa pun yang diraih manusia modern yang berada di pinggir (rim atau periphery) tidak lebih dari sekedar pengetahuan yang ”terpecah-pecah” (fragmented knoledge), tidak utuh lagi, dan bukanlah pengetahuan yang mendatangkan kearifan untuk melihat hakikat alam semesta sebagai kesatuan yang tunggal, cermin keesaan dan kemahakuasaan Tuhan. Orang dapat melihat realitas lebih utuh manakala ia berada pada titik ketinggian dan titik pusat. Nasr menandaskan, ”yang lebih tingi sajalah (level eksistensi) yang dapat memahami yang lebih rendah”.[5]

Manusia untuk dapat mencapai level eksistensi, kata Nasr harus mengadakan pendakian spritual dan melatih ketajaman intellectus. Pengetahuan fragmentaris tidak dapat digunakan untuk melihat realitas yang utuh kecuali jika ia memiliki visi intellectus tentang yang utuh tadi. Kemudian, dalam setiap hal pengetahuan dari pusat (centre atau axis), karena pengetahuan ini sekaligus mengandung pengetahuan tentang ap yang ada di pinggir dan juga ruji-ruji yang menghubungkannya. Dan manusia dapat mengetahui dirinya secara sempurna, hanya bila ia mendapat bantuan ilmu Tuhan, karena keberadaan yang relatif hanya akan berarti bila dikaitkan pada yang absolut, Tuhan.

Menurut Nasr, karena intellectus di atas tidak berfungsi, maka pengetahuan yang dihasilkan oleh pemikiran manusia modern tidak sanggup untuk mencapai hakikat realitas. Dengan demikian, tidak dapat diharapkan dari mereka yang berada di pinggir eksisstensi suatu pengetahuan yang utuh dan menyeluruh, malah sebaliknya, manusia yang demikian hanya akan menghasilkan ilmu pengetahuan yang ”terpecah-pecah”. Manusia dapat melihat realitas lebih utuh mankala berada di titik pusat.

Problem manusia modern secara filosofis berpusat pada tidak berfungsinya intelektus ini, sehingga konsep metafisika Barat berubah dari philosophia menjadi data empiris, yang hanya mampu melahirkan konsepsi rohaniah yang palsu (pseudo spritual). Di sinilah akar persoalan krisis manusia modern yang merambah ke seluruh dimensi kehidupan manusia.

E.     Penutup

Apa yang disebut sebagai filsafat perennial Nasr, sebenarnya adalah rekonstruksi pemikiran Nasr terhadap tradisi Islam (Islam tradition) yang bertumpu pada sufisme. Untuk memahami hakikat realitas manusia dan alam, menurut Nasr, tidak mungkin tercapai tanpa melakukan pendakian spritual. Pendakian ini mestilah integral dengan syari’at. Tanpa demikian, maka manusia akan mengalami akan mengalami bencana kehampaan dan kekosongan rohani, sehingga manusia akan tersesat menjalani hidupnya.

Problem manusia modern sebagai disinggung di atas muncul karena mengenyampingkan dimensi batini dirinya. Konsekuensinya mereka mengalami kegersangan dan kekeringan ruhani, pada hal kekayaan ruhani adalah prasyarat utama mencapai kebahagiaan. Kekeringan ruhani mengakibatkan manusia lari tanpa kendali ke jurusan hakikatnya yang nista.

Agar manusia terbebaskan dari petaka diri dimaksud, maka Nasr merumuskan filsafat perennialnya sebagai alternatif.

 

 

DAFTAR KEPUSTAKAAN

 

Chittick, William. “Preface” dalam Aminrazavi and Morris, The CompleteBibliografi of Seyyed Hossein Nasr From 1958 Through April 1993. Kuala Lumpur: 1994.

Echols, Jhon M., dan Hasan Shadily, Kamus Inggiris Indonesia. Jakarta : PT Gramedia, Cet, xx, 1992.

Gove, Philip Babcock, ed. In chief, Webster’s third New International Dictionary of  the Englis language Unabridged.  Massachussets USA : G & C  Merriam Company, 1996.

Maksum, Ali.  “Tradisionalisme Islam dalam Pemikiran Hossein Nasr”, Tesis, Program Pascasarjana IAIN SU Medan,  1996.

Nasr, S.H. Science and Sivilization in Islam. New York: New American Library, 1970.

——- Sufi Essays. London : George Allenad Unwin Ltd., 1972.

——- Man and Nature: The Spritual Crisis of Modern Man. London: A Mandala Book-George Allen & Unwin ltd., 1976.

——-Islam Tradisi di Tengah Kancah Manusia Modern. Diterjemahkan oleh Lukman Hakim. Bandung: Pustaka,  1415/1994.

Nasution, Hasyimsyah. “Alternatif Islam dalam Krisis Manusia Modern: Filsafat Perennial Seyyed Hossein Nasr, dalam Miqot: Majalah Ilmu Pengetahuan dan pembangunan No.Th. XX Maret-Apil 1994, Balai Penenlitianm IAIN SU Medan.

Shariati, Ali. Tugas Cendekiawan Muslim. Terjemahan M. Amien Rais. Jakarta: Rajawali Press, 1989.

 


[1]Maksum, hlm. 129-130.

[2]S.H. Nasr, Islam Tradisi

[3]S.H. Nasr, Islam Tradisi, h. 37.

[4]Nasr, Islam and the Pligh., h. 15.

[5]Ibid.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s